Jakarta – Sudah saatnya Indonesia membutuhkan kendaraan ramah lingkungan. Kendaraan tanpa emisi yang dikembangkan oleh berbagai produsen otomotif berbeda-beda. Salah satunya adalah motor listrik.

Sekarang, Indonesia sedang bersiap menyambut era elektrifikasi kendaraan bermotor. Polusi udara yang lebih buruk memaksa negara ini untuk meningkat. Penggunaan kendaraan listrik setidaknya dianggap mampu membantu mengurangi polusi udara.

Beberapa pihak sudah menyatakan siap menawarkan kendaraan listrik, terutama kendaraan roda dua. Mulai dari motor listrik yang dikembangkan dari awal oleh anak-anak Indonesia, hingga motor listrik pabrikan Jepang telah dirilis, meskipun sejauh ini belum semuanya dijual secara massal.

Di Indonesia, salah satu pabrikan yang telah aktif menawarkan motor listrik adalah Viar. Pabrikan sepeda motor yang berbasis di Semarang, Jawa Tengah, kini menawarkan skuter listrik Q1. Viar Q1 memecahkan masalah legalitas motor listrik di jalan Indonesia. Karena skuter listrik yang Viar kembangkan bersama Bosch sudah dilengkapi dengan registrasi kendaraan.

Mengenai sepeda motor listrik, orang-orang di Asmat, Papua, bahkan sudah terbiasa menggunakannya. Bahkan hampir 100 persen motor ada motor listrik. Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat berkunjung ke Agats, Papua, juga mengendarai sepeda motor listrik.

"99 persen kendaraan di sini ramah lingkungan karena mereka menggunakan motor listrik," kata Asisten Sekretaris III Kabupaten Asmat, Syamsul Agas, seperti dikutip dari detikFinance.

Menurut Syamsul, listrik di Asmat tidak hanya untuk penerangan, tetapi juga untuk pengisian motor listrik. Bahkan, dia mengklaim, Asmat adalah satu-satunya Kabupaten di Indonesia yang warganya menggunakan motor listrik.

"Jumlah kendaraan roda dua (sepeda motor) di Kabupaten Asmat adalah 1.920 unit, semuanya menggunakan listrik," tambahnya.

Masalah pengisian baterai tidak lagi menjadi masalah. PLN menyediakan lokasi pengisian daya listrik di kota Agats, Papua. SPLU ini dapat mengisi daya listrik sepeda motor hanya dengan Rp. 5.000. Pemilik kendaraan dapat membeli listrik dengan harga Rp5.000 dan kemudian mengisi SPLU yang tersedia.

Tidak hanya di Papua, stasiun pengisian untuk kendaraan listrik disiapkan di beberapa titik. PLN dan Pertamina, misalnya, menawarkan infrastruktur untuk mengisi ulang baterai kendaraan listrik. Pengguna kendaraan listrik akan difasilitasi ketika baterai habis ketika mereka sedang dalam perjalanan.

Mengisi daya baterai motor listrik memang menghabiskan waktu. Pengisian baterai biasanya memakan waktu berjam-jam. Tapi sekarang, itu bukan masalah besar untuk mengisi ulang baterai motor listrik. PT Gesits Technologies Indo (GTI), yang memastikan slide sepeda motor listrik nasional Gesits pada awal 2019, memiliki solusi untuk masalah pengisian motor listrik. Solusinya adalah swap baterai, yaitu menukar baterai yang sudah habis dengan baterai baru. Mengisi ulang baterai motor listrik semudah menukar gas LPG dengan kompor galon atau air kemasan.

Fasilitas pertukaran baterai juga tersedia di pompa bensin Pertamina di Kuningan, Jakarta Selatan. Pemilik motor listrik yang baterainya habis datang ke fasilitas itu, mengeluarkan baterai lama dan menukarnya dengan baterai baru yang terisi penuh.

Kelebihan motor listrik tidak perlu diragukan. Emisi rendah pasti karena motor listrik tidak memancarkan polusi udara seperti kendaraan bermesin bahan bakar. Biaya operasional motor listrik juga lebih murah. Faktanya, motor listrik tidak membutuhkan perawatan rutin seperti kendaraan bermesin bahan bakar yang harus mengganti oli setiap kilometer untuk beberapa bulan.

Fakta lain, pengisian listrik ke motor listrik lebih murah daripada mengisi bensin Pertamax cs untuk kendaraan bermesin bahan bakar. Dalam artikel berjudul "Rp. 8.250 Modal untuk Naik Motor Listrik Dapat Berkeliling Jakarta-Sukabumi" detikOto telah mencoba menghitung seberapa ekonomis penggunaan motor listrik. Perhitungan didasarkan pada kemampuan motor listrik untuk mencapai jarak tertentu (sesuai klaim pabrikan) dan tarif listrik untuk SPLU PLN ditetapkan sebesar Rp. 1.650 per kWh.

Motor listrik Gesits misalnya dilengkapi dengan baterai lithium ion dengan kapasitas 5 kWh. Dengan kapasitas baterai 5 kWh, motor listrik Gesits mampu menjelajahi jarak 80-100 km. Ini berarti bahwa jika dikalikan dengan tarif pengisian pada SPLU PLN (5 kWh x Rp. 1.650), hanya dibutuhkan Rp. 8.250 motor dapat menjelajahi jarak yang sama.

Contoh lain adalah Viar Q1. Dilengkapi dengan baterai lithium ion dengan kapasitas 2 kWh dengan daya 800 watt, daya jelajah Viar Q1 diklaim mampu menempuh jarak 60 km. Dengan begitu, begitu Anda melihat sepeda motor Viar Q1, Anda hanya perlu menghabiskan Rp3.300 (2 kWh x Rp1.650) dan Anda dapat berjalan kaki dari Jakarta ke Bogor.

Meski memiliki segudang keunggulan, banyak yang masih ragu menggunakan sepeda motor listrik. Masalah yang ditakuti dari kendaraan listrik adalah limbah baterai. Namun, Direktur Industri Kelautan, Peralatan Transportasi, dan Peralatan Pertahanan Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, mengatakan pada Oktober 2018 bahwa baterai yang telah terjatuh kemudian dapat digunakan kembali sebagai penyimpanan listrik.

Penurunan baterai ini menurut Putu dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. Misalnya, untuk menyimpan listrik yang dihasilkan oleh panel surya.

Setelah itu, sisa baterai masih akan didaur ulang. Putu mengatakan, ada beberapa perusahaan yang sudah tertarik untuk melakukan (daur ulang baterai) meskipun mereka tidak dapat dilihat saat ini karena industri kendaraan listrik belum berjalan. "Kami juga mencoba mendapatkan pengolahan limbah baterai ini untuk mendapatkan insentif," kata Putu.

Demikian juga, Viar mengklaim bahwa urusan pemborosan baterai telah dipertimbangkan sehingga tidak akan memperburuk lingkungan. Mantan baterai sepeda motor listrik Viar, kata Franky Osmond, Komunikasi Pemasaran PT Triangle Motorindo (Viar), dapat dialokasikan untuk penyimpanan energi panel surya.

Manajer Perusahaan PT Triangle Motorindo, pemegang merek Viar Motor (APM), Deden Gunawan, mengatakan bahwa baterai yang sudah pensiun sebenarnya tidak mati sepenuhnya. Tetapi karena penggunaan masa pakai, tegangan dan kinerja menurun. Untuk mengelola limbah baterai, kata Deden, nanti masih akan digunakan kembali atau didaur ulang. Apalagi Viar berencana menjalin kerja sama dengan perusahaan Eropa untuk mengatasi masalah pemborosan baterai.

"Ada beberapa perusahaan, sampai ada panel surya, dia menggunakan baterai. Nah (limbah), baterai kita seburuk mereka, mereka masih aman. Biasanya untuk lampu jalan. Mereka membeli, meminta volume, tapi saya katakan kami baru, "kata Deden.

Masalah lain adalah kekhawatiran tentang penggunaan motor listrik di jalan hujan atau tergenang air. Namun, setiap produsen motor listrik harus memperhitungkannya. Oleh karena itu, komponen yang tidak tahan air akan terlindungi sehingga tidak akan terkena percikan atau genangan air.

Ongko, salah satu anggota Komunitas Sepeda Motor Listrik (Cosmic), berbagi pengalamannya tentang masalah ini. Kata Ongko, yang menggunakan Viar Q1, gerimis, hujan, bahkan hujan deras tidak menjadi masalah bagi motor listrik.

Perwakilan Bosch mengatakan bahwa posisi ECU masih lebih tinggi daripada air akan aman. ECU, katanya, sudah tahan air. "Karena sudah menggunakan IP 5 dan 6, di mana generasi berikutnya akan meningkat dalam perlindungan air, tetapi tidak untuk terendam juga karena lebih berisiko," kata Marketing dan Manajemen Produk Bosch Jan Steppat.

Masalah di sekitar motor listrik telah dijawab. Produk motor listrik sudah siap. Beberapa nama seperti Viar Q1, Gesits, dan Honda PCX Electric bahkan akan menghiasi jalanan Indonesia. Jadi, sudah saatnya era sepeda motor listrik dimulai. (rgr / ddn)