Jakarta – Berusaha keluar dari ketergantungan pada bahan bakar fosil semakin banyak digemakan oleh pabrikan otomotif dunia, karena dianggap kurang baik berkat karbon dioksida yang dihasilkan. Kendaraan berbasis listrik disebut sebagai solusi untuk mengatasi polusi dan mengurangi emisi karbon.

Peneliti Senior Badan Energi Nuklir Nasional (BATAN) Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan bahwa hal itu sejalan dengan arahan pemerintah untuk memprioritaskan peta jalan kendaraan listrik untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan mengurangi emisi gas buang.

Namun menurutnya, saat ini kendaraan listrik belum menghasilkan emisi karbon rendah. Mantan Kepala BATAN melihat ini dari sumber energi yang disalurkan masih bergantung pada bahan bakar fosil.

"Yang benar adalah mobil listrik itu ramah lingkungan? Dari mana Anda mengisi ulang energinya?", Kata Djarot kepada detikOto ketika berbicara di kantor BATAN di Tangerang, Banten.

"Kita sering dibohongi bahwa mobil listrik ramah lingkungan. Menurut saya, karena sumber listriknya sendiri masih menggunakan batu bara," lanjut Djarot.

Pandangan Djarot, kendaraan listrik baru benar-benar ramah lingkungan ketika menggunakan sumber bahan bakar yang tidak mengeluarkan emisi karbon juga, dari teknologi nuklir misalnya. "Kelebihan nuklir, emisi karbon rendah hampir tidak ada," kata Djarot.

Dia mengatakan jika itu tidak dimulai sekarang, Indonesia semakin tertinggal, memang untuk membangun reaktor nuklir memerlukan biaya besar pada awalnya tetapi memiliki banyak manfaat di belakangnya, tidak hanya untuk sumber listrik.

"Untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir sendiri dalam 8 tahun terakhir, investasi juga cukup besar. Banyak perusahaan merahasiakannya, karena asumsi di Dubai membutuhkan dana sekitar Rp70 triliun untuk membangun reaktor nuklir," kata Djarot.

Terlebih lagi, Indonesia sendiri telah menandatangani Kesepakatan Paris untuk memenuhi era yang lebih hijau.

"Kami (Indonesia) memiliki komitmen kami sendiri melalui Perjanjian Paris. Saya mendukung itu, kami ingin mengurangi emisi karbon 29 persen pada 2030 dengan upaya kami sendiri, dan 41 persen dengan mengurangi emisi karbon dengan kerja sama internasional," kata Djarot.

"Tapi bisakah kita melakukan ini tanpa nuklir? Misson tidak mungkin. Berapa tahun lagi 2030?" Djarot ditutup. (riar / lth)