Jakarta – Pengguna kendaraan seringkali konvoi bersama. Namun terkadang ada beberapa kesalahan yang terjadi pada konvoi dan malah mengakibatkan serangkaian kecelakaan. Alih-alih menginginkan perjalanan yang lebih terstruktur, budaya konvoi yang salah justru dapat merugikan.

Rifat Sungkar sebagai Direktur Rifat Drive Labs (RDL) memberikan sejumlah informasi mengenai sejumlah kesalahan yang terjadi pada kebiasaan konvoi kendaraan.

Hal pertama yang membuat kesalahan ketika konvoi menyalakan lampu bahaya. "Bahaya tidak diciptakan untuk konvoi di sepanjang jalan, tetapi untuk keadaan darurat yang mengharuskan mobil Anda berhenti di tepi jalan," kata Rifat Sungkar.

Selain itu, kesalahan kedua yang sering terjadi adalah konvoi dengan jarak yang terlalu dekat antar mobil. "Semakin dekat jaraknya tidak meninggalkan tempat yang aman bagi Anda untuk bereaksi. Kecelakaan dalam konvoi sering terjadi karena tidak adanya ruang untuk kesalahan bagi diri Anda sendiri," tambah Rifat.

Ketiga, konvoi dengan posisi sejajar dengan mobil di depan Anda akan sangat membatasi jarak pandang di masa depan. Teori konvoi yang baik adalah bahwa sebanyak mungkin Anda mengambil sudut zig-zag dengan mobil di depan. "Ketika ada keadaan darurat, Anda bisa tahu harus bereaksi apa karena tidak terhalang oleh mobil di depan," jelasnya.

Kesalahan terakhir adalah konvoi yang pesertanya terlalu lama, karena ini dapat mengganggu ketertiban lalu lintas pengguna jalan lainnya. "Sebenarnya tidak ideal jika dalam konvoi ada banyak kendaraan yang berpartisipasi di dalamnya. Idealnya 5 hingga 8 mobil," katanya.

Teorinya adalah, konvoi dengan kendaraan panjang akan memiliki kecepatan penarikan dengan kata lain, kecepatan antara mobil di posisi depan, tengah dan paling belakang akan bervariasi. "Kecepatan yang berbeda akan membuat posisi konvoi berantakan. Selain kita dirugikan, pengguna jalan lain juga akan dirugikan," simpul Rifat. (ddn / ddn)