Peraturan sistem rem otomatis ini akan mulai di Jepang tahun depan.

REPUBLIKA.CO.ID, GENEVA – PBB mengatakan sebanyak 40 negara sepakat bahwa tahun depan, semua mobil dan kendaraan ringan harus dilengkapi dengan sistem rem otomatis. Amerika Serikat (AS) dan China tidak ikut menandatangani perjanjian yang dipimpin oleh Jepang dan Uni Eropa.

Peraturan yang dirilis Selasa (13/2) mensyaratkan mobil baru dilengkapi dengan teknologi sensor yang memonitor seberapa dekat mobil dengan pejalan kaki atau benda lain di sekitarnya. Sistem ini harus memicu rem otomatis jika tabrakan tidak dihindari atau jika pengemudi tidak menanggapi informasi yang diberikan oleh monitor.

Sistem ini bekerja pada & # 39; kecepatan rendah & # 39; sekitar 60 kilometer per jam atau kurang. Peraturan ini hanya berlaku untuk negara-negara yang menandatangani perjanjian ini. Jadi pemilik kendaraan saat ini tidak perlu menambahkan sistem ini ke mobil atau truk mereka.

AS, Cina dan India adalah anggota forum PBB yang mengadopsi peraturan baru ini. Tetapi mereka tidak ikut serta dalam proses negosiasi karena mereka ingin memastikan bahwa dalam industri otomotif peraturan domestik mereka lebih disukai daripada peraturan PBB.

Pada tahun 2016, sebanyak 20 pabrik mobil setuju untuk memasang sistem rem darurat di semua kendaraan mereka pada bulan September 2022 dengan pemerintah AS. Tetapi pabrik tidak diharuskan untuk melakukannya.

Berdasarkan laporan keselamatan lalu lintas AS, Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional pada 2017 sebanyak 4 dari 20 pabrik mobil yaitu Tesla, Mercedes-Benz, Toyota dan Volvo telah memasang sistem rem otomatis di hampir setengah model mobil yang mereka hasilkan.

Sementara itu data dari Highway Loss Data Institute menunjukkan 28 persen dari semua model mobil di AS pada 2019 sudah memiliki sistem rem darurat. 36 persen lainnya hanya pilihan.

Direktur eksekutif organisasi keselamatan berkendara AS, Centre for Auto Safety, Jason Levine, mengatakan bahwa kurangnya keterlibatan AS dalam forum PBB tentang sistem rem otomatis sangat memalukan. AS telah menjadi negara terkemuka dalam sistem keselamatan berkendara.

"Ini adalah indikasi lain dari industri otomotif Amerika Serikat dan pemerintah (Donald) Trump kurang kepemimpinan dalam mengendarai keselamatan untuk semua orang," kata Levine.

Juru Bicara Komisi Ekonomi PBB untuk Eropa (UNECE) Jean Rodriguez mengatakan regulasi sistem rem otomatis akan dimulai di Jepang tahun depan. Jepang menjual 4 juta mobil dan kendaraan ringan pada 2018. Uni Eropa dan beberapa negara tetangga lainnya akan menyusul pada 2022.

UNECE mengatakan negara-negara yang menandatangani perjanjian ingin lebih pro-aktif dalam memerangi kecelakaan lalu lintas, terutama di daerah perkotaan di mana mobil memiliki banyak kendala seperti trotoar, sepeda motor, sepeda dan kemacetan yang membuat mobil bertepatan satu sama lain. UNECE menekankan data yang mengatakan lebih dari 9.500 kecelakaan lalu lintas di Uni Eropa memakan korban.

UNECE percaya sistem rem otomatis akan menyelamatkan setidaknya 1.000 nyawa setiap tahun di Uni Eropa. Ada kekhawatiran bahwa regulasi sistem rem otomatis akan membuat kecerdasan buatan mengambil alih kendali dari manusia.

Negara-negara yang menandatangani perjanjian ini membuat poin yang jelas tentang hal itu. Dealer harus dapat mengendalikan sistem rem otomatis ini kapan saja melalui roda kemudi atau rem kaki.

UNECE mengatakan peraturan baru didasarkan pada peraturan PBB yang ada. Sebelumnya truk dan bus juga harus memiliki sistem rem otomatis untuk keamanan kecepatan tinggi.