Jakarta –

Kemajuan teknologi biasanya menyederhanakan pekerjaan manusia. Di sisi lain semua otomatisasi juga akan menghilangkan lapangan kerja. Seperti halnya peralatan parkir meter otomatis yang dapat berfungsi negatif, petugas parkir akan memungut biaya parkir.

Mesin parkir meteran sebenarnya telah dipasang di beberapa jalan Jakarta. Namun, dalam penerapannya ternyata di tempat itu masih ada petugas parkir (jukir) yang memang dipekerjakan secara legal oleh Departemen Perhubungan.

Salah satu pengukir yang bertugas, Joseph sendiri tidak pernah merasa takut bahwa profesinya akan digantikan oleh mesin. Pria ini telah lama diukir bahkan sebelum mesin parkir otomatis dipasang.

"Tidak mungkin (diganti) masih perlu (diukir) jika di jalan raya. Masalahnya adalah meskipun ada alat otomatis seperti aplikasi pembayaran, kebutuhan untuk masuk dan keluar. Jika masalah pembayaran berbeda, ceritanya berlanjut Jl H. Agus Salim, Jakarta Pusat, Selasa (18/2/2020).

Sebaliknya petugas parkir merasa bersyukur karena mereka memiliki penghasilan tetap. Sebagian besar ukiran yang menjaga unit parkir meteran memang orang-orang dari profesi serupa. Mereka juga dibayar bulanan dengan sistem kontrak per tahun. Profesi ini terbuka untuk siapa saja yang ingin mendapatkan penghasilan sebagai hewan.

"Sebagian besar dari mereka (yang bekerja di sini) dulunya adalah petugas parkir. Jika saya dulunya diambil dari manual di sini, karena mesin ini dibangun, membuat aplikasi. Sistem kontrak per tahun. Orang-orang ingin mendaftar lagi, melamar ke kantor pusat, "Joseph menjelaskan.

Dia juga suka bekerja seperti sekarang daripada metode konvensional. Yusuf juga berharap tempat-tempat lain juga akan menerapkan meteran parkir seperti ini.

"Lebih baik seperti ini, lebih terorganisir. Baik bahwa semua orang suka ini, tapi mungkin tidak bisa karena takut kehilangan," pungkasnya.

Tonton Video "DKI Membangun Trotoar dan Area Publik, TGUPP: Di Mana Toleransi Terjadi"
[Gambas:Video 20detik]
(rip / din)