Jakarta – Berbicara tentang mobil nasional menarik, karena selain memiliki merek, kebanggaan memiliki mobil nasional dapat dirasakan oleh semua orang Indonesia.

"Masalah Mobilitas Nasional, ini adalah bagaimana konsep pembangunan bersifat diskriminatif. Pola pembangunan harus menjadi favorit bangsa. Kita telah menjadi anggota perdagangan dunia. Ini berarti bahwa kita memperluas sektor apa pun tidak hanya otomotif," kata Dirjen Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian, Harjanto.

"Pengembangan (mobil nasional) ke depan pemerintah akan segera mendorong beberapa merek. Intinya komponen lokal ini bisa dibangun," tambahnya.
Harjanto memberi contoh, seperti mobil pedesaan atau AMMDes yang dibangun sangat cepat menggunakan komponen lokal.

"Seperti misalnya kita membuat AMMDes, prosesnya sangat cepat, hanya 8 bulan. Mengapa kita bisa melakukan itu? Karena industri otomotif dari tier satu sampai tiga sudah ada di negara ini. Sekarang kita hanya perlu menggunakan komponen dan bagian yang tersedia di dalam negeri, untuk mengembangkan merek baru. Di antara mereka kita dapat membuktikan bahwa AMMDes dapat, "katanya.

Hingga saat ini satu-satunya mobil yang diakui sebagai yang dibangun 100 persen adalah mobil desa, alias AMMDes. Mobil itu datang berkat kerja sama dua anak perusahaan PT Astra Otoparts, PT Velasto Indonesia dan PT Ardendi Jaya Sentosa dengan PT Kiat Inovasi Indonesia. (lt / kering)