Jakarta –

Koordinator Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman) Edo Rusyanto menjelaskan, indeks kecelakaan lalu lintas Indonesia memang mengkhawatirkan. Di sisi lain, kecelakaan lalu lintas juga membuat korban menjadi miskin.

“Selama 75 tahun kemerdekaan Indonesia, sebenarnya ini masalah yang sangat serius. Dampak kecelakaan lalu lintas jalan raya telah memiskinkan korban, atau keluarga korban,” ujar Edo saat diskusi virtual 75 tahun RI bertajuk & # 39 ; Beri kami kebebasan di jalan raya & # 39 ;, Selasa (29/9/2020).

Edo menyampaikan, pada 2018, dari 100 ribu warga, 12 orang meninggal akibat kecelakaan. Sedangkan tahun 2009, dari 100.000 penduduk, sembilan orang meninggal dunia akibat kecelakaan.

Namun dari segi kasus terjadi penurunan 22,2% menjadi 7,4 dari sebelumnya 9,3. Artinya dari 10 ribu kendaraan terjadi sembilan kecelakaan pada 2019, sedangkan pada 2018 hanya tujuh kendaraan, ”jelas Edo.

Kecelakaan tidak hanya menimbulkan risiko kematian dan cedera serius. Namun hal itu juga berdampak buruk bagi keluarga.

Mengapa demikian? Pasalnya, angka kecelakaan terbanyak masih pada usia produktif yang sebagian besar juga merupakan tulang punggung perekonomian keluarga.

"Dari studi yang dilakukan perguruan tinggi manajemen transportasi POLRI, 63 persen keluarga korban kecelakaan menjadi miskin."

“Misalnya dia (korban) adalah tulang punggung keluarga, kemudian kehilangan sumber daya ekonominya, praktis istri dan anak-anaknya, akan terpengaruh dari segi kesehatan, pendidikan, makanan, dan sebagainya,” terangnya.

Lebih lanjut, penelitian juga menyebutkan bahwa pada kategori keluarga dengan korban berat, sebanyak 67 persen tingkat kesejahteraan mengalami penurunan, 13 persen mengalami kemiskinan, 7 persen perekonomian dapat pulih, dan 12 persen belum mengalami penurunan ekonomi.

Tonton video "Sopir Gegara Ngantuk, Truk Bermuatan Beras Masuk Saluran Air"
[Gambas:Video 20detik]
(riar / din)