Jakarta –

Ahmad Hanafi Rais mengalami luka berat setelah mobil Alphard yang ditumpangi terlibat dalam rangkaian kecelakaan di ruas tol Cikopo-Palimanan (Cipali) sepanjang 112.900 kilometer tepatnya di kawasan Kabupaten Subang, Minggu (18/10) 02.22 WIB. Belajar dari kejadian ini, apa yang perlu diperhatikan saat berkendara agar tidak terjadi kecelakaan yang berurutan?

Praktisi keselamatan berkendara mengatakan, menjaga jarak aman antar kendaraan di jalan tol dapat mengurangi potensi kecelakaan berulang.

“Prinsip menjaga jarak adalah yang paling benar, supaya punya ruang untuk mengantisipasi atau menghindarinya,” buka Konsultan Pertahanan Keamanan Indonesia (SDCI), Sony Susmana saat dihubungi detik.com, Minggu (18/10/2020). .

Sony melanjutkan, jarak aman adalah ruang dan waktu yang dibutuhkan pengemudi untuk menganalisis dan mengantisipasi potensi bahaya. Saat di jalan raya, atur jarak aman dengan menggunakan prinsip empat detik.

Dalam empat detik itu ditentukan berdasarkan kemampuan manusia untuk merespon sesuatu. Artinya pengemudi memiliki waktu yang cukup untuk mengantisipasi bahaya lingkungan sekitarnya. Apalagi dari depan, saat mobil direm mendadak.

Asumsi perhitungan ini didasarkan pada respon manusia yang membutuhkan waktu 1,5 hingga 2 detik ditambah dengan reaksi pengereman mekanis yang membutuhkan waktu antara 0,5 dan 1 detik.

“Satu detik gaya momentum kendaraan, satu detik reaksi rem dan jalan, satu detik mewakili reaksi pengemudi (shock, menggerakkan kaki dari pedal gas ke rem), satu detik adalah faktor keamanan, ”jelas Sonny.

Sony menjelaskan, empat detik yang dimaksud dihitung dari kendaraan yang dikendarai oleh kendaraan lain di depan. Pengemudi dapat mencari objek statis seperti pohon atau tiang untuk dijadikan patokan dalam menghitung.

Misal, jika mobil di depan telah melewati suatu titik yang ditandai dengan tiang listrik, maka empat detik kemudian mobil yang kita kendarai telah melewati titik yang sama, artinya memiliki jarak aman dengan mobil di depan.

“Enggak mau repot, bisa berdasarkan jumlah tiang listrik (tol). Misal jarak tiang listrik itu 50 meter artinya jaga kecepatan 80-100 km / jam. dengan menjaga jarak mobil di depannya berdasarkan 3 tiang listrik (sekitar 100 meter), ”terangnya. Sony berdasarkan pengalamannya.

Faktor lain yang tak kalah pentingnya tidak hanya berbicara soal kesiapan kendaraan, tapi juga kondisi fisik pengemudi.

"Selalu jaga tubuh dalam kondisi fit, dengan kondisi fit, mata selalu bisa bergerak melihat sekeliling kendaraan dari depan, samping dan belakang untuk menghindari benturan terus menerus,"

“Otak bisa cepat memerintahkan tangan dan kaki agar tidak terjadi kecelakaan. Refleks dilakukan dengan tangan dan kaki yang sudah fit, sesuai perintah positif, agar reaksinya tidak gagal,” terangnya.

Selain jarak aman, kondisi mobil dan pengemudi di jalan tol. Hal lainnya adalah memahami batas kecepatan yang telah ditentukan. Karena semakin tinggi kecepatannya, semakin sedikit ruang dan waktu yang dimiliki pengemudi untuk merespons kejadian berbahaya.

"Penghitungan jarak aman berdasarkan detik itu fleksibel, tergantung kecepatan. Untuk kecepatan rendah – lebih rapi, kalau di kecepatan tinggi – jaraknya lebih lebar," kata Sony.

Namun perlu diingat, batas kecepatan terendah di jalan tol adalah 60 km perjam dan tertinggi 100 km perjam. Hal tersebut juga tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 111 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penetapan Batasan Kendaraan.

Tonton video "Kapolri Resmikan Indonesia Safety Driving Center di Tangsel"
[Gambas:Video 20detik]
(riar / lua)