Saat ini, daya beli masyarakat sedang mencapai titik terendah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Banyak hal yang perlu dilakukan untuk memacu industri otomotif dalam negeri. Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu, mengatakan usulan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tentang pelonggaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) nol persen bisa mendongkrak daya beli masyarakat.

Menurut Yannes, inisiatif tersebut membutuhkan strategi jitu untuk mendongkrak daya beli serta produksi otomotif dalam negeri. Salah satunya dengan mendorong produsen untuk menurunkan harga jual produknya dan menambahkan pelonggaran pajak lainnya.

“Paket yang harus dilakukan pemerintah tidak hanya memacu industri otomotif untuk kembali berproduksi. Di sisi lain, pemerintah juga perlu menerapkan strategi jitu untuk meningkatkan daya beli masyarakat yang saat ini berpotensi. untuk mencapai titik terendahnya, "kata Yannes.

Hal ini mengacu pada asumsi bahwa jika industri memacu produksinya kembali, namun daya beli masyarakat masih lemah, tentunya berpotensi menimbulkan masalah baru. “Kendaraan yang diproduksi berpotensi sulit diserap pasar,” imbuhnya.

Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto menilai, peningkatan daya beli tidak hanya mengandalkan stimulus dari pemerintah. Menurut dia, pabrikan otomotif juga harus rela menurunkan harga jualnya guna menarik daya beli konsumen.

“Ya, Produsen Otomotif (Agen Pemegang Merek) juga harus rela menurunkan harga jual KBM-nya,” ujarnya.

Untuk ini, produsen siap memberikan diskon, kata Jongkie.

Jongkie mengatakan, Gaikindo sudah mengusulkan agar pemerintah memberikan stimulus atau insentif yang ditargetkan agar bisa dimanfaatkan masyarakat dan meningkatkan daya beli.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Gaikindo mengusulkan ada stimulus yang langsung menekan harga mobil baru dengan memberikan pemotongan pajak seperti PPN, PpnBM, BBN KB, dan PKB, ujarnya.

sumber: antara