Kuala Lumpur – Mengemudi di Malaysia sangat berbeda dari Indonesia walaupun spesifikasi mobilnya tidak banyak berubah. Perbedaan yang paling mencolok adalah budaya dan aturan mengemudi.

Dua di antaranya adalah tentang penggunaan tanduk dan pundak jalan sebagaimana Amir mengatakan kepada wartawan Ruly Kurniawan di sela-sela acara International Automodified (IAM) di Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (14/4/2019).

"Kami biasanya hanya menggunakan lampu jika kami ingin menyalip. Jangan gunakan tanduk," katanya.

"Sementara bahu jalan digunakan untuk keperluan mendesak seperti polisi atau ambulans," lanjut Amir.

Amir juga menyebutkan, salah-salah menggunakan klakson dan mengemudi di bahu jalan, bisa dilintasi oleh polisi lalu lintas setempat. Memang denda tidak jauh berbeda dengan Indonesia (sekitar Rp. 500 ribu), tetapi ada penarikan SIM.

"Saya tidak tahu pasti (klakson akan ditilang) tetapi tampaknya ya. Tetapi yang pasti adalah bahwa berjalan di bahu jalan akan tunduk pada hukum polisi setempat.

Perlu diingat, pembuatan SIM di Malaysia sangat sulit. Selain karena tanpa calo, calon pengemudi diharuskan mengambil pelajaran mengemudi hingga waktu yang ditentukan. Kemudian jika SIM ditarik karena pelanggaran lalu lintas, pengemudi akan kehilangan legalitas mengendarai kendaraan atau menyewa kendaraan.

Jika terus hilang, ada kemungkinan SIM dibekukan secara permanen sehingga pengemudi harus mengikuti tes pembuatan SIM lagi. Atau, pengemudi ditangguhkan untuk waktu yang ditentukan agar dapat membuat SIM kembali. (ruk / rgr)