Ibukota baru akan mengusung konsep kota pintar dan transportasi pintar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) meneliti ekosistem kendaraan otonom yang dikembangkan. Ini untuk mendukung konsep kota cerdas untuk Ibukota Baru di Kalimantan Timur.

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan bahwa indikator kota pintar adalah mobilitas pintar, orang pintar dan bangunan pintar. Ini tentu akan berdampak pada model transportasi yang digunakan.

Sesuai dengan permintaan Presiden Joko Widodo pada berbagai kesempatan sehingga sistem transportasi di ibu kota baru telah mengadopsi kendaraan otonom atau kendaraan otonom tanpa sopir.

BPPT, katanya, telah menyiapkan konsep ekosistem pendukung yang disebut Driverless Ecosystem yang terus dipelajari oleh para insinyur di BPPT. Ada sejumlah hal yang perlu dibangun untuk uji coba ekosistem serta untuk ekosistem kendaraan otonom hilir.

Ekosistem kendaraan otonom katanya harus dibangun secara bertahap termasuk tingkat otomatisasi. "Ada lima tingkatan, mulai dari parsial, tidak ada otomatisasi sama sekali, hingga otomatisasi penuh dengan infrastruktur yang memadai," kata Hammam.

Staf Khusus Menteri Perencanaan Pembangunan Chairul Abdini yang mengatakan bahwa tantangan otonom ini banyak dan rumit dibandingkan dengan pesawat terbang. Sebab, mobil ini bergerak di jalan dan menghadapi banyak hal tak terduga.

"Kendaraan otonom ini perlu memahami perilaku kendaraan, dan menanggapi situasi di jalan. Karena ketika kendaraan berjalan bermil-mil, ribuan sensor bekerja untuk memindai situasi," katanya.

Dedi Cahyadi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan mengatakan bahwa ketika berbicara tentang penerapan kendaraan otonom, harus menyiapkan ekosistem dan infrastruktur serta kendaraan.

Otonomi, menurut dia, kendaraan pintar yang menggunakan robot, meski mereka masih menggunakan manusia dan bisa menggunakan kecerdasan buatan dalam rute mereka. Saat ini otonomi hanya dikembangkan di Cina dan Korea.

Dedi mengatakan ada prinsip yang menjadi tantangan dalam perkembangannya. Regulasi juga menjadi pertimbangan untuk menyesuaikan diri dengan teknologi baru.

"Maka itu juga harus ramah pengguna dan skalabilitas, mendukung infrastruktur. Dan sistem yang dikembangkan harus dapat diandalkan. Jadi terlepas dari sinyal, rem, kegagalan kendaraan. Hal lain yang perlu dipikirkan adalah pelatihan dan pendidikan," katanya.

sumber: perantara