Jakarta – BYD adalah salah satu merek bus listrik yang akan diuji oleh PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) selama enam bulan. Sebelum direncanakan beroperasi pada rute Transjakarta, bus Cina ini telah diuji cukup lama di Bali.

Bus listrik BYD yang digunakan di Bali adalah tipe C6, di mana bus berada dalam kategori bus sedang yang berfungsi sebagai pengumpan bus. Bus ini memiliki konfigurasi 2-1 kursi, dengan jumlah kursi sekitar 24, ditambah 1 kursi pengemudi.

Pada saat itu, dua unit bus BYD diimpor langsung dari Tiongkok. Dan ditugaskan sebagai shuttle bus yang melayani mobilitas peserta Dana Moneter Internasional & Bank Dunia, pada akhir 2018.

Presiden Direktur PT Bakrie Autoparts, Dino A. Ryandi, distributor BYD di Indonesia, mengatakan bahwa bus listrik putih polos yang diuji tidak mengalami masalah sedikitpun.

"Ketika kami mencoba di Bali, hampir 1 bulan tidak ada masalah sama sekali," kata Dino kepada wartawan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Transjakarta sendiri dalam presentasinya ketika meresmikan kolaborasi dengan BYD dan MAB, Kamis (21/3/2019), mengatakan bahwa merek BYD adalah salah satu yang paling banyak digunakan di dunia dan cukup dipercaya.

"Ini (bus listrik BYD) sudah ada di 50 negara. Sudah terjual 50 ribu unit. Bus ini juga sudah beredar di Shenzhen dengan total 16.000 unit," Direktur PT Transportasi Jakarta, Agung Wicaksono.

Jika berjalan sesuai rencana, maka bus listrik BYD, termasuk bus listrik lokal, yaitu MAB (Mobil Anak Bangsa) akan segera diadili di rute bus Jakarta, Senayan – Monas, selama 6 bulan.

Nantinya, TransJakarta tidak akan membeli bus listrik. Sebagai gantinya, mereka akan menyewanya dari operator bus yang merupakan mitra. PT Transjakarta akan membayar biaya operasional berdasarkan rupiah per km. (lua / lth)