Jakarta – Menggunakan GPS saat mengemudi dapat dipenjara sesuai dengan UU LLAJ (Lalu Lintas dan Transportasi Jalan). Keputusan itu ditegaskan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) ketika menolak gugatan mobil Komunitas Toyota Soluna (TSC) yang meminta untuk diklarifikasi tentang aturan mengemudi dalam Pasal 106 ayat 1 UU LLAJ.

Hasilnya, menyetir sambil melihat ponsel atau ponsel termasuk pengendara yang menggunakan GPS dapat dipenjara maksimal 3 bulan atau denda maksimal Rp. 750 ribu. Meskipun pada kenyataannya, penggunaan GPS belum berkontribusi pada jumlah kecelakaan di jalan.

Ini diungkapkan oleh pengacara TSC Ade Manansyah dengan merujuk pada data polisi hingga 2017.

"Berdasarkan data polisi hingga 2017, penyebab kecelakaan dari pengendara yang menggunakan telepon hanya sekitar 6 persen. Sangat kecil. Sisanya (yang besar) adalah karena mengobrol, bercanda, di bawah pengaruh alkohol atau mabuk," katanya saat berbicara dengan detikOto melalui telepon di Jakarta.

"Kecelakaan yang disebabkan oleh pengguna kendaraan yang menggunakan GPS tidak ada," lanjut Ade.

Oleh karena itu, keputusan Mahkamah dianggap Ade sebagai bias atau banyak interpretasi. Sejalan dengan itu, Pemilik Jakarta Defensive Driving Conculting (JDDC), Jusri Pulubuhu juga beranggapan bahwa Mahkamah Konstitusi subjektif dalam hal ini.

"Tindakan MK agak subyektif, karena mereka melihat foto atau fakta di mana ojol (ojek motor online) menggunakan GPS sambil berjalan. Ada tindakan mustitasking di salah satu tubuhnya untuk melakukan kegiatan dan MK melihat ini sangat berbahaya. Ini seharusnya bukan penolakan (tidak setuju jika menggunakan GPS-Red) tetapi melahirkan PP baru tentang penggunaan GPS, "kata Jusri.

"Dan ini seharusnya untuk ojol, harus ada mekanisme (mengatur cara menggunakan GPS-Red), harus ada aturan tidak sambil berjalan, kalau sambil jalan pakai GPS itu tidak boleh interaksi.," Katanya.

Jusri juga menilai, jika memang menggunakan GPS dilarang, bisa dipastikan para pengemudi ojol akan masuk penjara.

"Bisa jadi semua Ojol dapat dipenjara. Jika saya bisa berkomentar, itu tidak melarang, tetapi untuk SOP penggunaan GPS pada kendaraan bermotor. Karena GPS tidak memiliki interaksi dengan tubuh atau multitasking saat berjalan. Jika Anda menelepon itu tidak dibolehkan dan aturannya sudah ada, "lanjut Jusri.

"Karena bisa jadi dia (Ojol) ingin memasukkan atau mencari alamat, itu dilakukan ketika berhenti bukan saat berjalan. Karena jika demikian (melakukan pencarian melalui GPS sambil berjalan-Red) dapat membahayakan dirinya dan orang lain," katanya berkata lagi.

(ruk / ddn)