Jakarta –

Mantan Direktur Utama (Dirut) PT Dirgantara Indonesia (Persero) Budi Santoso ditunjuk oleh KPK sebagai tersangka karena dugaan korupsi terkait dengan penjualan dan pemasaran di PT DI pada 2007-2017.

Melihat garasi, mantan Direktur Utama PT DI memiliki beragam model mulai dari hatchback hingga SUV.

Ini diketahui berdasarkan Laporan Aset Penyelenggara Negara (LHKPN), yang terakhir dilaporkan pada 1 Mei 2010 saat menjabat sebagai Direktur Utama. Dia telah mencatat total aset sebesar Rp 7.903.926.937 atau Rp 7,9 miliar.

Rp. 451 juta di antaranya terdaftar sebagai kendaraan bermotor milik Budi Santoso, 6 di antaranya adalah mobil dan sisanya adalah sepeda motor.

Mobil pertama adalah peringatan Toyota FJ60 pada tahun 1981 untuk akuisisi tahun 2002 senilai Rp 40 juta, kemudian Suzuki Baleno pada tahun 1997 dengan nilai Rp 80 juta, Isuzu Panther pada tahun 2001, Suzuki Jimny 1984 Rp 10 juta, Nissan Grand Livina 2007 Rp 150 juta dan Honda Stream 2002 Rp. 120 juta.

Sedangkan sepeda motor termasuk 3 sepeda motor Honda, salah satunya adalah bebek Honda Kharisma.

Seperti dilansir AFP sebelumnya, Ketua KPK Firli Bahuri mengatakan bahwa selain Budi, KPK menetapkan Irzal Rinaldi Zailani sebagai Asisten Direktur Pelaksana Bisnis sebagai tersangka. Kedua tersangka diduga melakukan korupsi dengan membuat kontrak fiktif terkait pemasaran dan penjualan di PT DI pada 2007 hingga 2017.

"Bahwa pada awal 2008 tersangka BS sebagai Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (Persero) dan tersangka IRZ sebagai asisten Direktur Sektor Bisnis Pemerintah. Dari Juni 2008 hingga 2018 kontrak kemitraan / agen dibuat antara PT Dirgantara Indonesia ( Persero) ditandatangani oleh Direktur Integrasi Pesawat dengan Direksi PT Angkasa Mitra Karya, PT Bumiloka Tegar Perkasa, PT Abadi Sentosa Perkasa, PT Niaga Putra Bangsa, dan PT Selaras Bangun Usaha. Untuk kontrak kerjasama mitra / agen, semua mitra / agen tidak pernah melakukan pekerjaan berdasarkan kewajiban yang tercantum dalam perjanjian kerja sama, "katanya di gedung KPK Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (12/6/2020).

Firli mengatakan tindakan kedua tersangka itu diduga mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 205,3 miliar dan USD 8,65 juta, setara dengan Rp 125 miliar. Dengan demikian, total kerugian negara mencapai Rp 330 miliar.

Lihat Video "Komisi Pemberantasan Korupsi: Mantan Direktur Utama PT DI Setara Bansos Untuk 1 Juta KK"
[Gambas:Video 20detik]
(riar / lua)