Jakarta –

Hertz, perusahaan rental mobil berusia 102 tahun dilaporkan bangkrut karena bisnis yang semakin sepi karena pandemi virus Corona.

Mengutip CNN, Selasa (26/5/2020) Hertz telah mengajukan kebangkrutan sejak Jumat (22/5/2020) karena gagal membayar hutang atau mencapai kesepakatan dengan kreditor.

"Dampak keseluruhan dari krisis COVID-19 sangat menghancurkan penghasilan kami," menurut sebuah laporan pengadilan yang ditandatangani oleh Jamere Jackson, wakil presiden eksekutif dan kepala keuangan Hertz.

"Dampak Covid-19 pada permintaan sewa tiba-tiba dan dramatis, menyebabkan penurunan pendapatan dan pemesanan perusahaan di masa depan," kata pernyataan perusahaan itu.

Meski bangkrut, tetapi perusahaan ini tetap beroperasi. Hertz mengatakan proses kebangkrutan akan memberinya restrukturisasi keuangan yang lebih kuat.

Sebelumnya perusahaan juga telah memotong karyawannya untuk membendung kerugian. Sebanyak 10 ribu karyawan di AS dan Kanada mewakili 26,3 persen di dunia.

Perusahaan ini memiliki total 568.000 kendaraan dan 12.400 lokasi perusahaan dan waralaba di seluruh dunia awal tahun ini. Sekitar sepertiga dari jumlah ini ada di bandara.

Sebagian besar bisnis non-bandara Hertz menyewakan mobil kepada orang-orang yang kendaraannya diperbaiki setelah kecelakaan.

Masalah di Hertz dan bisnis mobil sewaan secara keseluruhan adalah berita buruk bagi produsen mobil dunia. Perusahaan penyewaan mobil biasanya merupakan pembeli utama mobil baru. Tahun lalu mereka membeli 1,7 juta mobil AS, menurut Cox Automotive. Itu sama dengan 10% dari pembelian mobil baru AS.

Hertz telah mengumumkan tidak akan membeli mobil baru untuk sisa tahun ini, dan bahwa ia mulai menjual kendaraannya sebagai mobil bekas. Pada awal Maret, ia telah menjual 41.000 mobil dari armada AS dan 13.000 dari armada Eropa. Tetapi berhentinya lelang dan bekas dan dealer mobil baru telah membuat penjualan armada berhenti sepenuhnya.

Tonton Video "Petugas Evakuasi, Pasien Korona di Mamuju Didorong oleh Warga"
[Gambas:Video 20detik]
(riar / lua)