Jakarta – Bahkan jumlah ganjil yang diperpanjang hingga akhir tahun di wilayah Jakarta diharapkan membuat pengendara beralih ke penggunaan transportasi umum. Sebagaimana digariskan oleh hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Transportasi, peningkatan laju pertumbuhan jalan (termasuk jalan tol) tidak sebanding dengan laju peningkatan kendaraan yang mencapai 11 persen per tahun.

Mempertimbangkan kondisi-kondisi ini beberapa lembaga seperti Badan Pengelolaan Transportasi Jakarta dari Kementerian Perhubungan, Dinas Perhubungan DKI Jakarta, berusaha untuk mematahkan kepadatan arus lalu lintas dengan menerapkan sistem yang genap ganjil.

Setelah diperpanjang hingga akhir tahun, temuan R & D mengatakan bahwa persentase pengendara yang beralih ke transportasi umum meningkat.

"Temuan R & D menunjukkan bahwa 24 persen dari penggunaan kendaraan pribadi telah beralih ke transportasi umum, itu telah cukup berhasil," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Transportasi Sugihardjo.

"Tapi dari 24 persen yang masuk ke angkutan umum massal hanya 38 persen, yakni 20 persen menggunakan bus TransJakarta atau umum, dan 18 persen menggunakan KRL," kata Sugihardjo.

Dia kemudian menjelaskan bahwa transportasi online (taksi / ojek online) masih merupakan pilihan rakyat. "Sementara transportasi tidak massal, apakah itu taksi online dan sepeda motor online ada 20 dan 19 persen," katanya.

"Ada juga yang mengambil taksi biasa jika menurut orang angkut tidak ada perbedaan dengan taksi online karena baik penggunaan fasilitas angkutan umum dengan kapasitas kecil 7,5 persen, sepeda motor naik 9 persen," kata Sugihardjo.

Hasil survei R & D juga tidak menyangkal bahwa penggunaan mobil pribadi masih didominasi ketika sistem ganjil-genap diterapkan.

"Sementara 53 persen masih menggunakan kendaraan pribadi, alasannya adalah dari 53 persen, 37 persen menggunakan rute alternatif, itulah mengapa rute alternatif macet," jelasnya. (riar / rgr)