Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meresmikan uang muka (DP) 0% untuk pembiayaan kendaraan bermotor. Aturan baru ini tentu menyenangkan bagi konsumen tetapi tidak untuk beberapa pihak yang terlibat, salah satunya adalah penjual mobil bekas (mobkas).

Ariyanto, salah satu dealer di wilayah Bekasi, mengatakan kepada detikOto bahwa penerapan DP 0% berpotensi menimbulkan masalah baru. Sebab, kendaraan tidak lagi menjadi kebutuhan tersier. Orang dapat dengan mudah memilikinya, terutama mobil.

"Dengan DP 0%, sangat mudah bagi orang untuk dapat membawa kendaraan baru. Bagus memang, sehingga kendaraan yang beredar lebih ramah lingkungan karena ada banyak yang baru. Tapi ini tentu memiliki masalah baru seperti peningkatan volume kendaraan di jalan, risiko kredit buruk, dan harga mobil bekas turun murah, "katanya di Jakarta, Minggu (13/1/2019).

"Skemanya akan seperti ini, ada orang yang membeli mobil baru dengan program DP 0%. Di tengah jalan, dia merasa tidak lagi bisa menjualnya ke pasar mobil bekas untuk mendapatkan keuntungan dan mentransfer biaya Jika orang melakukan ini ramai, otomatis harga jual mobil akan turun (lebih murah), "kata Ariyanto.

Belum lagi, permintaan mobil akan cenderung menurun. "Jika Anda dapat membawa mobil baru dengan mudah, yaitu menggunakan program DP 0%, Anda dapat membelinya kan? Nanti, jika Anda & # 39; bingung & # 39 ;, menjualnya di pasar mobil bekas. Itu & # 39 Jadi kalau proses ini tidak jelas dan ketat, akan banyak masalah baru, "kata Ariyanto lagi.

Perlu dicatat, kebijakan ini diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui peraturan OJK Nomor 35 / POJK.05 / 2018 tentang Implementasi Perusahaan Pembiayaan Bisnis. Di sana, FSA memungkinkan perusahaan pembiayaan untuk memberikan DP 0% kepada konsumen jika mereka memiliki pembiayaan bermasalah atau pinjaman bermasalah (NPF) di bawah 1%.

Sedangkan perusahaan pembiayaan yang memiliki NPF 1% hingga 3% harus menetapkan DP minimal 10%. 3% NPF di bawah 5% memiliki DP minimum 15%. NPF di atas 5% harus menawarkan DP minimum 20%.

Aturan baru ini tentu menyenangkan bagi konsumen. Sebab, mereka tidak perlu lagi menunda penyerahan pembiayaan kendaraan bermotor, cukup pikirkan angsurannya. (ruk / rgr)