Jakarta – Mengemudi baik dalam jarak dekat atau jauh membutuhkan kesehatan yang sangat baik. Karena dengan kondisi tubuh yang prima kecelakaan jalan bisa dihindari.

Menurut Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno, salah satu faktor penyebabnya adalah ketika kondisi pengemudi tidak lagi dalam kondisi baik, karena terlalu banyak memaksakan diri terutama ketika mengendarai jalan bebas hambatan.

Djoko mengatakan bahwa meski ada peraturan yang mengatur durasi kerja maksimal saat mengemudi, yaitu dalam Pasal 90 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang LLAJ, yaitu 8 jam sehari.

"Jika Anda mengemudi 4 jam berturut-turut, Anda harus beristirahat setidaknya 30 menit. Tetapi dalam kasus-kasus tertentu Anda dapat mengemudi setidaknya 12 jam sehari termasuk 1 jam waktu istirahat," kata Djoko melalui pesan singkat yang diterima oleh detikOto.

Ketika mengacu pada aturan yang diterapkan di negara-negara Eropa. Durasi waktu mengemudi untuk pengemudi angkutan umum dan truk barang tidak jauh berbeda, dinyatakan dalam Peraturan (EC) No 561/2006 bahwa setelah mengemudi selama 4,5 jam, pengemudi kendaraan umum di negara-negara UE harus beristirahat setidaknya 45 menit.

Berkendaraan jika Anda tidak dalam kondisi lelah, kata Djoko, dapat mengancam diri Anda dan pengendara lain, yaitu gejala tidur mikro. Biasanya orang akan merasakan tidur mikro ini ketika melakukan sesuatu yang monoton dan sangat lelah. Salah satu contohnya adalah mengemudi.

"Pendidikan untuk pengemudi pengguna jalan tol perlu didorong. Jalan tol yang nyaman dapat menyebabkan tidur mikro. Tidur mikro terjadi dalam kisaran 4 hingga 5 detik, yang jika terjadi kecelakaan bisa berakibat fatal," tambah Djoko.

"Oleh karena itu, setiap 2-3 jam berkendara di jalan raya, pengemudi harus beristirahat. Dapat menggunakan area istirahat atau memilih untuk keluar dari jalan tol untuk mencari restoran untuk istirahat selama 30 menit. Kendaraan juga perlu istirahat untuk menghindari ban pecah, "kata Djoko. (riar / lth)