Karawang – Setelah Honda Freed disuntik hingga mati, PT Honda Prospect Motor (HPM) tidak lagi melakukan kegiatan ekspor mobil penuh yang sebelumnya aktif selama 2011-2014. Hingga akhirnya rakitan Honda Brio generasi kedua di negara ini dipilih sebagai mobil andalan Honda untuk debut ekspor mulai tahun ini.

Alasannya, seperti dikatakan Direktur Pemasaran dan Purna Jual PT Honda Prospect Motor (HPM) Jonfis Fandy, tidak ada produk mobil Honda di Tanah Air yang memiliki karakteristik unik lagi.

"Kami akan menghentikan produksi Freed mulai 2014, sehingga ekspor secara otomatis akan hilang. Kami menggantinya dengan model baru dan komponen ekspor (CKD)," kata Jonfis di Karawang, Jawa Barat, Selasa (26/3/2019) ).

"Pada waktu itu kami mempunyai rencana untuk mengekspor mobil keluarga lainnya (Mobilio ke BR-V). Tetapi setelah dianalisis, harga Freed berkisar antara Rp. 250 juta hingga hampir Rp. 290 juta dengan dimensi besar. Jika kita mengekspor mobil (mobil keluarga lainnya)), itu tidak menguntungkan bagi mereka karena kecil dan biayanya lebih besar, "jelasnya.

Karena itu, HPM memutuskan untuk berpuasa mengekspor seluruh mobil atau CBU hingga lima tahun (2014 hingga 2019). Ketika generasi kedua Brio hadir di Indonesia dan mendapat respons yang sangat positif, keinginan untuk mengekspor mobil kembali.

"Generasi kedua Brio adalah mobil khusus Indonesia. Mulai dari pengembangan dan survei, benar-benar dilakukan di sini sehingga lebih besar, lebih hidup, dll. Bagasi muncul. Pada akhirnya, Indonesia memiliki mobil khusus dan istimewa. Jika Anda ingin mobil ini, ya ke Indonesia, "jelas Jonfis.

Dia juga menegaskan bahwa mobil keluarga Honda seperti Mobilio sudah ada di negara tujuan seperti Thailand dan Malaysia. Jadi tidak ada alasan bagi HPM untuk mengekspor mobil serupa.

"Kebijakan Honda sama seperti komitmennya, produksi mobil di negara-negara yang dituju. Dan Brio ini unik, jadi kita bisa mengekspornya," lanjut Jonfis.

All New Brio akan dikirim HPM ke Vietnam dan Thailand mulai hari ini. Dalam rencana menengah, tidak ada negara lain yang akan ditargetkan. "Kami ingin fokus pada kedua negara terlebih dahulu, setelah itu, lihat saja permintaan pasar lagi," kata Jonfis. (ruk / rgr)