Hyundai dan Kia berkolaborasi dalam pengembangan transmisi cerdas.

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY – Di pasar otomotif global, Hyundai dan Kia adalah produsen yang cukup bertanggung jawab. Mengingat, kedua produsen Korea ini terus berinovasi dalam teknologi dan desain.

Kali ini, Hyundai dan Kia juga berkolaborasi dalam mengembangkan transmisi cerdas. Dilansir dari Car Advice, Sabtu (22/2), transmisi, yang disebut transmisi proaktif yang cerdik, adalah transmisi otomatis yang akan digunakan pada mobil dengan mesin pembakaran internal.

Melalui kolaborasi, Kia dan Hyundai mencoba menciptakan teknologi transmisi cerdas yang akan menentukan rasio secara akurat. Keakuratan penentuan rasio juga memanfaatkan sejumlah data aktual yang diproses dari kamera dan radar yang ditanamkan di mobil.

Tujuan utama dari penerapan teknologi ini sendiri adalah untuk dapat memberikan akselerasi yang paling optimal dan efisien karena rasio yang disajikan adalah rasio transmisi sesuai dengan kondisi jalan. Transmisi yang diklaim sebagai teknologi pertama di dunia itu sendiri juga disebut Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Connected Shift System.

Cara teknologi ini bekerja adalah dengan menggunakan unit kontrol transmisi (TCU). Perangkat ini akan menentukan rasio transmisi yang dipersenjatai dengan data terkait dengan tikungan yang akan dilalui, tingkat kemiringan jalan, kondisi lalu lintas, dan beban kendaraan.

Selain itu, TCU juga memproses data radar yang menyajikan informasi kecepatan dan jarak antar kendaraan. Sementara kamera yang terletak di bagian depan mobil akan menyajikan data tentang lintasan yang akan dilalui.

Dengan memanfaatkan kecerdasan buatan, TCU juga mengemas semua data ke dalam algoritma untuk menentukan skenario perpindahan gigi yang paling sesuai dengan kondisi waktu-nyata.

Dalam tes yang dilakukan oleh Kia dan Hyundai di jalur penuh tikungan, teknologi ini mampu mengurangi perpindahan gigi transmisi hingga 43 persen. Selain itu, teknologi ini juga mampu mengurangi penggunaan rem hingga 11 persen.

Artinya, selain lebih akurat dan efisien, ternyata teknologi ini juga berkontribusi mengurangi kelelahan yang dialami pengemudi. Pengemudi tidak perlu menggerakkan kakinya terlalu banyak dari pedal gas ke pedal rem berkat perlambatan optimal yang dilakukan melalui rem engine.

Berkat teknologi ini, mode mengemudi dapat secara otomatis beralih ke mode olahraga ketika pengemudi membutuhkan akselerasi di jalan di mana kondisi memungkinkannya melaju cepat.