Pusat penelitian Hyundai di Singapura akan memproduksi kendaraan listrik skala kecil.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Produsen kendaraan asal Korea Selatan, Hyundai Motor Co mulai membangun pusat riset dan pengembangan di Singapura pada Selasa (13/10). Nantinya, pusat penelitian ini akan menampung fasilitas produksi kendaraan listrik skala kecil.

Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, mengatakan pada upacara peletakan batu pertama bahwa fasilitas tersebut dapat memproduksi hingga 30.000 kendaraan listrik (EV) setiap tahun pada tahun 2025. Angka ini mewakili investasi sebesar US $ 295 juta.

Saat ini, Singapura adalah salah satu tempat termahal di dunia untuk membeli mobil dan negaranya tidak memiliki kapasitas untuk memproduksi mobil. Namun, Singapura berencana menghentikan kendaraan berbahan bakar bensin pada 2040.

"Aktivitas otomotif kembali populer di Singapura. EV memiliki rantai pasokan yang berbeda, lebih sedikit suku cadang mekanis dan lebih banyak elektronik, yang memainkan kekuatan Singapura," kata PM Lee seperti dikutip Reuters, Rabu (14/10).

Dalam hal ini, juru bicara Hyundai masih belum bisa memastikan apakah kapasitas pabrik tersebut 30.000 unit atau lebih. "Kapasitas 30.000 unit belum bisa dipastikan, fasilitas itu akan selesai akhir 2022," kata Hyundai.

Sebelumnya, perusahaan penyedot debu Dyson tertarik membangun pabrik mobil listrik di Singapura. Namun, pada tahun lalu mereka membatalkan niat tersebut karena tidak layak.

Pusat ini adalah bagian dari visi Hyundai untuk memungkinkan pembeli kendaraan di masa depan menyesuaikan dan membeli kendaraan secara online menggunakan smartphone. Dengan demikian produksi bisa sesuai permintaan.

sumber: Reuters / Antara