Penarikan kembali disebabkan oleh kemungkinan korsleting pada baterai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Perusahaan otomotif asal Korea Selatan, Hyundai Motor Co, sedang melakukan penarikan kembali mobil listriknya. Kona Electric tertarik ke pasar global termasuk Amerika Utara, Eropa, dan Cina.

Dikutip dari Reuters, Senin (12/10), sebanyak 51 ribu unit Kona Electric ditarik kembali karena risiko sel baterai terbakar. Penarikannya tiga kali lipat dari penarikan sebelumnya.

Penarikan kembali akan dilakukan setelah produsen mobil Korea Selatan itu mengumumkan rencana penarikan kembali 25.564 Kona Electric secara sukarela pada pelanggan & # 39; rumah mulai 16 Oktober.

Hyundai mengatakan perusahaan sedang dalam tahap akhir mengajukan pemberitahuan penarikan sukarela dengan NHTSA (Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional) untuk US Kona EV.

Hyundai akan menarik kembali 37.366 kendaraan dan 11.137 kendaraan masing-masing di Eropa dan Amerika Utara, menurut Kantor Berita Yonhap.

Kementerian Transportasi Korea Selatan mengatakan pekan lalu Hyundai akan secara sukarela menarik kembali Kona Electric-nya karena kemungkinan korsleting. Ini disebabkan oleh produksi sel baterai bertegangan tinggi yang salah yang menyebabkan risiko kebakaran.

LG Chem Ltd, yang memasok baterai ke Kona Electric, mengatakan pekan lalu sel baterai yang rusak bukanlah penyebab kebakaran di dalam kendaraan. Penyebab pastinya belum ditentukan.

LG Chem mengatakan percobaan peragaan ulang yang dilakukan bersama dengan Hyundai tidak menyebabkan kebakaran. Kebakaran tidak dapat dikaitkan dengan sel baterai yang rusak.

Kona Electric yang ditarik kembali di Korea Selatan akan menjalani pembaruan perangkat lunak untuk semua model yang terpengaruh dan baterai pengganti untuk model tertentu setelah pemeriksaan.

KB Investment & Securities mengatakan dalam sebuah laporan pada hari Senin bahwa hal itu dapat merugikan Hyundai sebanyak 600 miliar won (US $ 522,10 juta). Ini jika mereka menawarkan baterai pengganti untuk hampir 77.000 kendaraan yang terkena dampak yang diidentifikasi di seluruh dunia sejauh ini.

sumber: antara