Indonesia harus siap menjadi bagian dari industri otomotif listrik global

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kebijakan mobil listrik nasional terus diupayakan oleh sejumlah orang sehingga dapat segera direalisasikan. Ini terkait erat dengan kemandirian industri otomotif nasional, khususnya di bidang kendaraan listrik untuk memiliki daya saing di panggung global.

Gagasan itu dipicu saat diskusi yang diadakan oleh Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia (Maskeei), Kamis (31/1). Tampaknya keseriusan dimulainya industri kendaraan listrik dapat dilihat dari kesiapan pembangunan pabrik bahan baterai kendaraan listrik di daerah Morowali, Sulawesi Tengah. Bahan baku baterai listrik yang terdiri dari nikel dan kobalt ditemukan di wilayah ini.

Namun, pemerintah masih mencari investor yang tertarik mengembangkan industri baterai. "Jika berjalan lancar, banyak percepatan dalam kesiapan bahan baku untuk kendaraan listrik sangat dekat," kata Profesor Satryo Soemantri Brodjonegoro, dosen ITB yang juga staf ahli di Menteri Koordinator Bidang Kelautan.

Menurut dia, dalam diskusi terakhir, pemerintah fokus mengembangkan kendaraan listrik berbasis baterai, termasuk membuat peraturan presiden tentang masalah ini.

Kebijakan ini selain upaya mengurangi impor bahan bakar dan mengurangi emisi karbon, juga meningkatkan kemandirian Indonesia dalam industri otomotif, khususnya kendaraan listrik yang digerakkan oleh baterai. "Semua bahan baku tersedia dan hanya inilah yang memungkinkan Indonesia untuk bersaing dengan negara lain di industri otomotif," kata Satryo.

Indonesia harus dan siap menjadi bagian dari rantai pasokan global (Global Supply Chain) di Industri Kendaraan Listrik, terutama yang berbasis baterai.

Penyempurnaan dan pemberlakuan Peraturan Presiden tentang percepatan program kendaraan listrik berbasis baterai untuk Transportasi Jalan sebagai dasar hukum untuk mengundang investor internasional dan mendorong industri dan inovasi nasional.

Upaya juga harus dilakukan untuk meyakinkan para pemain industri otomotif yang telah tumbuh di Indonesia untuk tumbuh bersama dengan industri kendaraan bermotor listrik nasional yang baru. Karena itu, pemerintah, industri dan masyarakat diperlukan untuk menciptakan ekosistem yang subur untuk kendaraan bermotor listrik nasional.

Tarik-menarik perang tentang kendaraan listrik yang terjadi di antara instansi terkait sejauh ini dapat mempengaruhi kemerdekaan Indonesia di sektor industri otomotif di masa depan. Mengenai kekhawatiran tentang limbah baterai listrik juga tidak perlu karena sudah ada pabrik yang siap menampungnya untuk diolah kembali menjadi produk lain. "Jadi masalah kendaraan listrik hanya sekarang atau tidak sama sekali," katanya.

Namun, industri otomotif belum sepenuhnya menerima keberadaan kendaraan listrik bertenaga listrik ini. Selain nilainya yang masih tinggi, penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai telah dilakukan di Eropa dalam cuaca dingin.

Padahal Indonesia dengan iklim tropis dikhawatirkan dapat mempengaruhi daya tahan baterai. "Kesiapan dari produsen sebenarnya ada, tetapi harganya masih tinggi di atas Rp 500 juta jika dijual, sehingga tidak efisien," kata Kukuh Kumara, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo).

Menurutnya, untuk produk kendaraan baru, perlu waktu uji coba antara 3 dan 4 tahun sebelum dipasarkan ke publik. Saat ini hanya kendaraan hybrid yang telah dipasarkan bahkan dengan harga tinggi. "Harganya masih jauh, mungkin jika mobil listrik yang dijual untuk LCGC baru akan terjangkau," katanya.

Selain kebijakan pemerintah yang masih perlu didorong, masalah dengan ketersediaan pasokan listrik juga harus dipertimbangkan. Idealnya sistem pengisian daya pada kendaraan listrik dapat dilakukan di rumah.

Namun sekarang ini hanya bisa dilakukan di rumah-rumah yang memiliki kapasitas listrik di atas 5500 kilowatt saja karena kebutuhan akan daya baterai kendaraan yang sangat besar. Sistem pengisian baterai dapat dilakukan antara pukul 22.00 hingga 17.00 agar tidak mengganggu kebutuhan lain.

PLN juga sedang meninjau fasilitas depot pengisian daya listrik yang dibutuhkan nanti ketika kebijakan tersebut direalisasikan. Termasuk membangun sistem waralaba dengan pihak lain untuk menyediakan fasilitas ini.

Saat ini fasilitas yang disebut show case akan dibuka di PLN Jaya Gambir Distribution, SCBD dan Blue Bird taxi pool. "Kami akan memiliki show case di Jakarta dan Bali," kata Zainal Arifin, Manajer Senior Pengembangan Teknologi dan Standardisasi PT PLN (Persero).

Maskeei sendiri ingin mendorong efisiensi dan penggunaan listrik untuk industri otomotif nasional. Energi yang ada harus dikelola dengan hati-hati dan seimbang. "Silakan mereproduksi kendaraan apa pun dari karbon rendah, akan ada seleksi alam, ini adalah kesempatan kita untuk menjadi setara dengan negara lain dalam kemandirian industri otomotif," kata Ketua Umum Maskeei, Jon Respati.