Jakarta – Rombongan Bupati Demak, M. Natsir, mengalami kecelakaan lalu lintas di Tol Batang, tepatnya di KM 349 di Kandeman. Sebelumnya ada juga kecelakaan di Jalan Raya Ngawi-Kertosono KM 604, Desa Garon, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun. Kedua peristiwa itu mengalami kecelakaan dengan menabrak ekor truk.

Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno kembali mengingatkan pengendara yang melintasi jalan tol Trans Jawa atau jalan raya lainnya untuk selalu memperhatikan batas kecepatan.

"Jalan tol dibangun untuk kelancaran mobilitas dan barang. Bukan sirkuit mobil balap, tentu tidak bisa bertahan sampai tujuan perjalanan jika terjadi kecelakaan di jalan," kata Djoko melalui pesan singkat yang diterima detikOto.

Mengenai truk yang menabrak dari belakang, Djoko mengatakan bahwa truk barang di Indonesia tidak dirancang untuk kecepatan tinggi. "Apalagi kalau membawa barang, kecepatannya tidak lebih dari 40 km / jam," kata Djoko.

Karena itu pengguna jalan tol diharapkan lebih bijak dan lebih terorganisir, Djoko mengatakan Kementerian Perhubungan telah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 111 Tahun 2015 tentang Prosedur Penentuan Batas Kecepatan.

"Batas kecepatan setidaknya 60 km / jam dan kecepatan tertinggi adalah 100 km / jam untuk jalan raya (termasuk jalan tol). Sementara di jalan antar kota, seperti jalan Pantura, maksimal 80 km / jam, untuk jalan perkotaan yang tertinggi adalah 50 "km / jam dan maksimum 30 km / jam untuk jalan daerah perumahan," jelas Djoko.

Meski begitu, di tepi jalan tol, rambu batas kecepatan maksimum dan minimum telah dipasang.

"Namun, itu tidak dipatuhi oleh pengguna tol. Bakan bangga, pengguna tol bisa melaju dengan kecepatan tinggi. Itu seperti sirkuit balap motorway," tulis Djoko.

Djoko juga menilai bahwa jalan tol bebas pulsa perlu dipasangkan dengan perangkat tambahan seperti kamera pengontrol kecepatan.

"Jalan tol juga perlu dilengkapi dengan kamera pemantau kecepatan untuk membantu polisi lalu lintas melakukan pelanggaran terhadap pelanggar batas kecepatan," kata Djoko.

Meski begitu, pada kenyataannya, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat kini telah mengeluarkan peraturan tentang Alat Refleksi Cahaya Tambahan (APCT) untuk mengurangi hit dari belakang, terutama di malam hari.

"Tetapi hanya berlaku 1 Mei 2019 untuk mobil bus dan truk baru, dan 1 September untuk mobil dan truk yang sudah beroperasi. Semoga dengan APCT, dapat mengurangi tabrakan dari belakang, terutama di malam hari, karena ada pantulan cahaya , "kata Djoko.

(riar / ddn)