Jakarta – Pada tahun 2020 Indonesia telah merencanakan untuk menggunakan B30 sebagai bahan bakar untuk kendaraan bermesin diesel. Bahkan, Calon Presiden (Calon Presiden) 01 Joko Widodo mengatakan, Indonesia akan memiliki bahan bakar biodiesel B100.

Saat ini, penggunaan bahan bakar dicampur dengan kandungan minyak sawit 20 persen atau disebut B20 telah digunakan secara menyeluruh.

"Kami telah memulai penggunaan biodiesel dengan produksi B20 menjadi B100 sehingga ketergantungan fosil akan berkurang dari tahun ke tahun," kata Jokowi dalam Debat Debat Kepresidenan Volume 2 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019) malam.

Penggunaan B20 yang sekarang sebenarnya tidak sepenuhnya berjalan lancar. Meskipun mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, efek buruknya dirasakan oleh kendaraan yang menggunakannya.

Campuran bahan-bahan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dalam bahan bakar fosil mengarah ke masa pakai filter bahan bakar diesel yang lebih pendek. B20 yang digunakan sekarang menghasilkan cairan residu dalam bentuk gel yang menutup filter untuk mengurangi daya dari kendaraan bermesin diesel.

"Filter solar akan lebih cepat jika usia dengan mencampurkan FAME (yang) menaikkan gel yang menutup filter, sehingga daya berkurang," kata Direktur Penjualan dan Promosi PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI), Santiko Wardoyo saat ditemui beberapa waktu lalu.

Santiko menambahkan bahwa frekuensi perubahan filter diesel untuk penggunaan bahan bakar B20 meningkat lebih dari dua kali lipat. Ini akan membebani konsumen kendaraan komersial dalam biaya perawatan unitnya. "Usia dibelah dua, yang biasanya 20 ribu km, jadi 10 ribu kilometer mengganti filter," lanjut Santiko.

Dari masalah ini, Santiko berharap pemerintah akan melakukan perbaikan pada campuran B20 untuk membuatnya lebih ramah terhadap kendaraan diesel. "Kami berharap pemerintah akan membuat campuran yang lebih baik, akan ada dampak positif," katanya.

Lalu bagaimana dengan biodiesel B100 jika B20 masih membuat filter kendaraan cepat kotor? (rip / rgr)