Konsumen saat ini menunggu kepastian realisasi pelonggaran pajak mobil baru.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Tahun ini sepertinya menjadi tahun yang sangat menantang bagi industri otomotif. Apalagi di pasar mobil bekas. Serangan hebat itu akan semakin terasa, jika nanti pemerintah benar-benar menghapus pajak kendaraan baru.

Manajer Senior Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua Jakarta Herjanto Kosasih mengatakan, saat ini pasar mobil bekas sedang mengalami tantangan. Kondisi benar-benar tidak bisa diprediksi. Pasar diselimuti ketidakpastian, kata Herjanto kepada Republika.co.id, Selasa (6/10).

Awalnya, penjualan mobil bekas kembali dipengaruhi oleh adanya pembatasan sosial skala besar (PSBB) jilid dua untuk wilayah DKI Jakarta. Tantangan ini belum berakhir, ternyata para trader harus kembali melakukan pukulan yang terbukti berdampak pada pasar saat ini.

"Pasar sepi setelah tiba-tiba ada usulan pelonggaran pajak untuk mobil baru," ujarnya.

Diakuinya, rencana tersebut tidak terduga sehingga berdampak pada pasar mobil bekas. Anjuran ini menimbulkan spekulasi bahwa ke depan harga mobil baru bisa turun signifikan, sehingga konsumen matik lebih memilih membeli mobil baru daripada bekas.

Menurut Herjanto, meski hanya berupa proposal, rencana tersebut memberikan pukulan telak bagi pasar. “Sebagian besar konsumen saat ini lebih memilih menunggu atau menunda transaksi. Tentu hal ini akan menghambat perputaran modal di pasar mobil bekas,” ujarnya.

Karena itu, dia mengaku prihatin dengan iklim bisnis yang tidak menentu ini. Bahkan, dia sempat memprediksi September hingga Desember akan menjadi masa pemulihan pasar mobil bekas.

Selain itu, kondisi yang tidak menentu ini juga berdampak negatif bagi masyarakat yang akan menjual mobilnya. Mengingat, di masa sulit ini, ada sejumlah orang yang terpaksa menjual kendaraannya demi mendapatkan dana segar untuk kelangsungan usaha atau memenuhi kebutuhan pokok.