Jakarta – Lampu lalu lintas menjadi alat kontrol lalu lintas di persimpangan. Namun, masih banyak pembalap yang sepertinya menjadikan lampu lalu lintas sebagai lampu untuk memulai balapan.

Bukti? Bukan lampu hijau, hanya menyalakan lampu kuning, banyak pengendara & # 39; membantu memulai & # 39 ;. Padahal, aksinya sangat berbahaya.

"Mereka harus mengubah persepsi bahwa lampu lalu lintas bukan lampu start (perlombaan). Itu tidak hijau, itu hanya tanduk kuning di sana-sini. Ini seperti memulai (balap) kadang-kadang, benar. Begitu jalan, mereka yang membunyikan klakson rileks (tidak terlalu terburu-buru, tetapi ingin cepat berjalan ketika lampu hijau baru menyala-RED), "kata Pendiri dan Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Pendiri dan Instruktur Jusri Pulubuhu kepada detikOto pada hari Jumat (1/11/2019).

Jusri menyarankan agar pengemudi yang berada di persimpangan dengan lampu lalu lintas harus menunggu dengan sabar. Prosedur yang paling tepat adalah menunggu 1-2 detik setelah lampu hijau menyala.

"Jika Anda berhenti dari posisi yang ingin Anda tuju, tunggu 1-2 detik setelah lampu hijau jika kita adalah pembalap depan. Periksa kanan-kiri, aman, jalan saja," jelas Jusri.

Ini perlu dilakukan jika ada pengemudi dari arah lain yang lalai. Misalnya, dari arah lain lampu telah memerah tetapi terus menerobos. Tidak masalah siapa yang salah, tetapi jika kecelakaan terjadi, kecelakaan akan terjadi.

"Banyak kasing, nyalakan lampu hijau, dia meluruskan. Dia benar. Tapi ada pembalap lain yang terlambat dari arah lain (melewati meskipun lampu telah berubah merah hanya beberapa detik), sebagai akibat dari tabrakan." Pergi dari arah yang lain. Ini adalah standar penggerak pertahanan dunia. Karena logikanya, 1-2 detik setelah lampu merah masih rusak, "kata Jusri. (Rgr / lth)