Jakarta – Kementerian Perindustrian Indonesia menyambut baik penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk pelumas otomotif. Penerapan standar SNI pada pelumas otomotif diharapkan mampu menjaga kualitas pelumas yang beredar di Indonesia.

Seperti diungkapkan oleh Direktur Industri Kimia Hilir, Direktorat Jenderal Industri Kimia, Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian, Taufik Bawazier, banyak produk pelumas di bawah standar yang beredar di Tanah Air.

"Karena dicurigai banyak, dan ini tidak tercatat secara jelas, hampir 15 persen (pelumas di Indonesia) diisi dengan minyak di bawah standar. Dan cukup banyak pelaku yang ditangkap karena produksi minyak palsu," kata Taufik, kepada wartawan. , terganggu -sela acara Pertamina-JAMA Engine Oil Seminar 2019, di Jakarta.

Peraturan standar pelumas otomotif di Indonesia telah dikeluarkan sejak akhir tahun lalu.

Hal ini dinyatakan dalam Peraturan Menteri Perindustrian No. 25 tahun 2018 tentang Penegakan Wajib Standar Pelumas Nasional Indonesia. Peraturan ini diundangkan pada 10 September 2018 dan berlaku mulai 10 September 2019.

"Jadi pemerintah ada di sini agar pendapatan negara bisa dioptimalkan. Industri juga tumbuh, tenaga kerja meningkat, jadi kita bisa melangkah lebih jauh untuk memenuhi kebutuhan domestik," lanjut Taufik.

Taufik menambahkan, pasar pelumas di Indonesia sendiri memiliki nilai sekitar puluhan triliun rupiah.

"Pasar pelumas, jika mungkin, kami berspekulasi sekitar Rp 30 triliun. Nah, 15 persen diduga sebagai pasar banjir oleh minyak non-standar dan di bawah standar, saya tidak menyebutnya dipalsukan. Tapi ini diduga timbul karena pengawasan di lapangan tidak memiliki instrumen regulasi yang kuat, "pungkas Taufik. (lua / kering)