Jakarta – Larangan mengemudi saat merokok kembali muncul setelah dituliskan dalam Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 12 Tahun 2019 Pasal 6 tentang Perlindungan Keselamatan bagi Pengguna Sepeda Motor.

Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno menyambut baik peraturan tersebut, terutama di negara-negara lain, sanksi untuk merokok di tempat umum, hukumannya lebih berat.

"Di beberapa negara telah menerapkan aturan denda ini, seperti di Inggris, Skotlandia, Australia, Amerika Serikat, Kanada, Prancis, Afrika Selatan. Di Inggris ada denda 50 pound atau Rp1,1 juta. 2,2 juta, "jelas Djoko.

"Sementara di Malaysia pada 1 Januari 2019 ada larangan merokok di restoran sebagai kelanjutan dari larangan merokok di kantor pemerintah, bioskop taman, rumah sakit, sekolah, kampus, pusat perbelanjaan, kamar ber-AC. Juta atau dua tahun & Pemenjaraan. Ini sedang direncanakan akan diperluas ke pengemudi yang mengendarai kendaraan bermotor, "kata Djoko melalui pesan singkat.

Di Singapura di mana larangan merokoknya tidak kalah ketat, orang hanya bisa merokok di dalam mobil dengan jendela tertutup, sehingga asapnya tidak diperbolehkan keluar dari mobil.

Di Indonesia, pengendara yang melanggar ketentuan larangan merokok dikenakan denda Rp. 750.000 atau maksimal 3 bulan sesuai dengan Pasal 283 UU Nomor 22 Tahun 2009.

Lebih jauh, kegiatan lain yang mengganggu konsentrasi saat mengemudi seperti merokok berpotensi menyebabkan bahaya. Kesadaran setiap pengguna jalan dianggap perlu untuk muncul melalui aturan.

"Adanya kegiatan lain seperti merokok akan mengganggu konsentrasi dan menyebabkan kecelakaan lalu lintas dan membahayakan diri sendiri serta pengguna jalan lainnya," jelas Djoko.

(riar / ddn)