Jakarta – Fenomena & # 39; goyang & # 39; truk harus dihentikan karena dianggap sangat berbahaya bagi setiap aktor di jalanan. Bahkan jika ada pengemudi yang berperilaku seperti ini, pikiran pengemudi yang mengemudikan truk perlu dipertanyakan.

Seperti dikemukakan pemilik Jakarta Defensive Driving Conculting (JDDC) Jusri Pulubuhu, kepada detikOto.

"Sopir (yang mengendarai truk & # 39; goyang-Merah & # 39;) tidak punya otak, tidak ada logika!" Kata Jusri tegas.

Karena jika dilihat dari kejadian yang terjadi di Bantul, lanjut Jusri. Terjadinya a & # 39; goyang & # 39; truk yang memakan korban ini, tidak bisa mengemudi dengan aman.

"Truk ini melebihi kapasitas, mengemudi dengan kecepatan tinggi adalah manuver berbahaya, dia tidak boleh membawa barang berlebih, bukan kecepatan tinggi, dan harus berhati-hati," kata Jusri.

Bahkan Jusri juga melihat, insiden goyang & # 39; truk yang mengambil korbannya bisa disebut kasus pembunuhan.

"Ini seperti membunuh, jika Anda menabrak orang lain. Karena dia sadar melakukannya. Kecepatan tidak tepat, bahkan jika ada batas kecepatan, misalnya 80 km / jam, seharusnya 60 km / jam., "tambahnya.

"Jadi pengendara harus dinasihati, pertama mengendarai kendaraan sesuai kecepatan. Kedua, agar kejadian ini tidak terjadi lagi, semua pelaku dari pengemudi / pengemudi truk, penegak hukum, pengusaha, harus memahami aturan," katanya .

[Gambas:Video 20detik]

(lth / ddn)