kesiapan untuk produksi baterai kendaraan listrik, kerjasama internasional sedang dijajaki

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Keberadaan kendaraan listrik di Tanah Air beberapa tahun belakangan ini menjadi perhatian serius pemerintah dan industri otomotif. Sejumlah pabrikan asal Jerman, Jepang, Korea, dan China pun mulai serius menawarkan produk kendaraan listrik unggulannya sebagai uji coba di pasar nasional.

Pemerintah Indonesia telah memberikan dukungan agar kendaraan listrik dapat digunakan secara masif setelah keluarnya Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Angkutan Jalan.

Kepala Pusat Teknologi Konversi Energi-Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (B2TKE-BPPT) Mohammad Mustafa Sarinanto mengatakan saat ini sudah ada dua mobil listrik nasional yang sudah siap, yaitu MAB (jenis bus) dan GESITS (roda dua). Kedua kendaraan tersebut mengandalkan desain dan desainnya masing-masing. Sementara itu, mereka yang mengandalkan desain dan teknik asing atau berafiliasi dengan merek asing juga ada.

Terkait kesiapan produksi aki kendaraan listrik, Sarinanto mengatakan, BUMN sedang menjajaki kerja sama dengan mitra internasional. Selain itu, Pertamina juga mendukung akademisi dalam negeri seperti Universitas Negeri Solo (UNS) untuk memprakarsai pengembangan produk aki nasional.

Investor asing sepertinya sedang dijajaki BUMN, masih dalam pembahasan intensif untuk skema terbaik. Kekayaan alam Indonesia berupa bahan baku aki untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) merupakan peluang yang sangat baik untuk menjadi global player dalam baterai KBLBB, "kata Sarinanto. Republika, Rabu (12/8).

Kemajuan teknologi terkadang menimbulkan masalah bagi lingkungan. Begitu pula aki kendaraan listrik berpotensi menjadi limbah berbahaya. Terkait hal tersebut, saat ini sedang dipersiapkan skema teknologi dan industri terkait penanganan limbah aki atau daur ulang aki.

“Yang ingin kami optimalkan adalah daur ulang bahan baku yang masih bisa diolah menjadi batere lagi. Berbeda dengan aki kimia yang menghasilkan limbah kimia, aki KBLBB umumnya aki kering yang memungkinkan pendaurulangan lebih efektif,” jelas Sarinanto.

Jika kendaraan listrik akan digunakan secara masif tentunya tidak lepas dari peran Usaha Kecil Menengah (UKM). Sarinanto menjelaskan kendaraan terdiri dari banyak komponen yang dapat didukung oleh UKM dalam penyediaan komponen pendukungnya.

Selain itu, ekosistem KBLBB mencakup banyak aspek mulai dari kendaraan, aki (dan penggantian aki), stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), model bisnis, penyediaan listrik baik dari energi terbarukan maupun smart grid. Kehadiran mobil akan menciptakan peluang bisnis. “Hal ini memungkinkan banyak pihak untuk terlibat dalam pelaksanaan KBLBB ini. Sehingga potensi keterlibatan IKM (industri kecil dan menengah) sangat luas dalam pelaksanaan KBLBB,” kata Sarinanto.