Jakarta –

Ada asumsi bahwa mobil yang lebih baru memiliki bodi yang lebih tipis daripada sebelum tahun 2000-an, yang membuatnya lebih mudah penyok saat terbentur atau terjadi kecelakaan. Adakah alasan dibalik mobil yang memiliki pelat lebih tipis?

Sebuah Toyota Fortuner mengalami kerusakan parah pada bagian depan akibat kecelakaan di jalan raya. SUV tersebut mengalami kerusakan setelah menabrak Volvo tua, yang tidak mengalami kerusakan parah.

Pengamat otomotif dan akademisi Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, membenarkan bahwa mobil modern memang memiliki pelat bodi yang lebih tipis. Tapi itu dibarengi dengan teknologi yang lebih maju.

“Desain struktur logam dan kulit bodi mobil kini berkembang sangat pesat. Jika dulu semuanya terbuat dari pelat tebal, itu akibat keterbatasan teknologi di jamannya,” ujar Yannes saat dihubungi detik.com. , Rabu (16/9).

Alhasil, mobil dengan teknologi struktur lama kerap menggunakan pelat tebal. Hal inilah yang kemudian dianggap oleh masyarakat umum sebagai mobil yang kuat dan tidak mudah penyok, ”lanjutnya.

Ketebalan pelat, lanjut Yannes, juga berpengaruh pada konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Mobil tua memiliki pelat yang lebih tebal tetapi konsumsi bahan bakarnya lebih boros dibandingkan mobil produksi saat ini.

Dampak lain dari ketebalan pelat logam yang digunakannya membuat mobil menjadi lebih berat, yang kemudian harus dipasangkan ke motor dengan kapasitas lebih besar agar bisa melaju kencang. Hal inilah yang membuat pengguna sering mengeluhkan borosnya penggunaan bahan bakar. di mobil-mobil tua. Belum lagi teknologinya. Mesinnya masih belum sesempurna saat ini dalam hal efisiensi bahan bakar, ”jelas Yannes.

Yannes melanjutkan, bodi mobil yang mudah penyok merupakan bagian dari sistem keselamatan sebuah mobil. Saat ini untuk mengetahui kekuatan mobil terletak pada struktur rangka. Setidaknya terdapat dua struktur rangka pada mobil penumpang, yaitu tangga dan monocoque.

Sekarang semuanya sudah berubah. Pendekatan desain pada struktur mobil sudah dibagi dua dengan kokoh. Pertama, struktur rangka utama terbuat dari baja yang dikeraskan yang sangat kaku dengan tujuan agar 'sangkar' ini 'sangkar' ini. dapat melindungi penumpang di kabin semaksimal mungkin. "

Kedua, cangkang bodi terbuat dari material plat baja tipis dengan tujuan agar total beban material yang harus dibawa dan digerakkan oleh motor bisa lebih ringan, jelas Yannes.

Kemajuan teknologi ini pada akhirnya dapat mengurangi mesin & # 39; s & # 39; CC & # 39; kapasitas sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakarnya.

“Kemudian, akibat bobot yang lebih ringan, mobil bisa berhenti lebih cepat saat pengereman, karena energi kinetik berkurang akibat bobot total kendaraan yang lebih rendah,” kata Yannes.

Ia melanjutkan, mobil kini dituntut memiliki teknologi perlindungan pejalan kaki atau pedestrian protection. Teknologi ini mengharuskan bodi mobil menyerap benturan biasa di bagian depan dan belakang.

"Untuk menyerap energi kinetik sebanyak mungkin akibat tumbukan frontal, terutama dari area depan dan belakang yang kita kenal sebagai crumple zone," kata Yannes.

Crumple zone berada di bagian depan dan belakang struktur sangkar dan memang dipersiapkan untuk menggunakan material yang lebih rapuh untuk menyerap energi momentum tumbukan sebanyak mungkin, bahkan pada bumper (menggunakan plastik fleksibel) dan kap serta bagasi dibuat bahkan lebih tipis guna mengurangi dampak cidera saat menabrak manusia / pejalan kaki yang dikenal dengan istilah & # 39; pedestrian friendly & # 39 ;.

“Imbas dari pendekatan engineering itulah yang menghasilkan desain mobil dengan ketebalan pelat bodi yang lebih tipis. Dampaknya dirasakan konsumen, jika mobil digosok meski sedikit pun akan langsung penyok,” ucapnya.

Tonton video "Toyota Fortuner Coaching Clinic, Understand Safety Driving"
[Gambas:Video 20detik]
(riar / din)