MRT terbatas untuk mengubah pola penggunaan kendaraan di masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pasar otomotif di Jakarta dan sekitarnya dianggap tidak terpengaruh oleh keberadaan Moda Jalan Raya Terpadu (MRT). MRT direncanakan beroperasi secara komersial pada Maret 2019.

Ketua Asosiasi Industri Otomotif Indonesia (Gaikindo), Jongkie D Sugiarto mengatakan, keberadaan sistem transportasi umum tidak akan mempengaruhi penjualan produk otomotif. Tapi itu bisa mengubah pola masyarakat dalam menggunakan kendaraan mereka.

"Tentu saja penjualan otomotif akan tergantung pada pertumbuhan ekonomi, serta pendapatan per kapita. Itu tidak tergantung pada sistem transportasi. Saya melihat di negara-negara dengan sistem transportasi yang mapan, dengan transportasi massal yang baik seperti Singapura ke Hong Kong melalui bus, LRT , MRT, ke monorel, penjualan mobil mereka tidak berkurang, "kata Jongkie.

Menurut Jongkie, pendapatan masyarakat adalah faktor utama yang mempengaruhi penjualan produk otomotif. Padahal keberadaan transportasi umum yang baik seperti negara maju sebenarnya memfasilitasi mobilitas orang pada hari kerja, dan mereka dapat menggunakan kendaraan pribadi di akhir pekan.

"Jika pendapatan mereka meningkat, mereka akan terus membeli mobil. Jika pendapatan mereka termasuk dalam kelompok, saya yakin mereka akan terus membeli. Tetapi apa yang bisa berubah adalah menggunakan. Jika Senin hingga Jumat menggunakan transportasi massal, nanti pada akhir pekan gunakan mobil bersama keluarga, apakah makan bersama atau di mana saja sesuai kebutuhan, "kata Wakil Presiden Komisaris PT Hyundai Mobil Indonesia.

Namun, Jongkie tidak menampik jika ada calon pelanggan yang berkecil hati memiliki kendaraan pribadi jika sistem transportasi di Indonesia lebih mapan.

"Ada persentase di sana, tetapi kecil," kata Jongkie. Ia menambahkan, mobil itu masih akan dibeli sesuai kebutuhan.

Jodie O 'tania sebagai Wakil Presiden Komunikasi Korporat di BMW Group Indonesia juga mengatakan hal yang sama, yaitu keberadaan MRT tidak akan berpengaruh signifikan terhadap penjualan otomotif. Dia percaya hanya ada konsumen mobil mewah yang menggunakan transportasi massal yang nyaman. Tetapi mereka akan menggunakan mobil pribadi mereka selama liburan atau akhir pekan untuk mendukung gaya hidup mereka.

"Kami bermain di segmen premium dengan karakter konsumen premium yang berbeda. Jika memang mereka menggunakan transportasi massal, bisa jadi ketika akhir pekan menggunakan mobil bersama keluarga. Jadi efeknya (MRT pada penjualan otomotif) tidak signifikan," kata Jodie setelah peluncuran BMW X4 di Jakarta.

Kesempatan

Jongkie mengatakan bahwa rencana kehadiran MRT Jakarta fase I pada rute Lebak Bulus-Bundaran HI juga bisa menjadi peluang bagi produsen kendaraan komersial untuk menawarkan produk bus kecil atau menengah, seperti armada pengumpan dari daerah perumahan ke stasiun MRT. Meskipun menurut rencana akan ada sejumlah halte Transjakarta yang terintegrasi dengan stasiun MRT, menurutnya, jika ada banyak pengguna MRT dari zona penyangga, misalnya Tangerang Selatan, armada bus pengangkut akan diperlukan untuk memfasilitasi akses penumpang.

Kemudahan akses tentu akan menjadi stimulus bagi orang untuk beralih menggunakan transportasi umum. "Ini transportasi bus umum, baik menengah atau kecil, jadi mungkin ada kebutuhan untuk kendaraan komersial sebagai pengumpan. Dari rumah naik bus ke stasiun MRT," kata Jongkie.

Pengembangan infrastruktur, dari sistem transportasi hingga pembangunan jalan tol di daerah, juga memberikan stimulus positif bagi industri otomotif. Menurutnya, sistem transportasi massal yang sudah mapan berpotensi mengurangi kemacetan dan menciptakan mobilitas yang cepat bagi warganya, yang masih bisa menggunakan kendaraan pribadi di akhir pekan.

Pembangunan infrastruktur jalan tol, katanya, juga membuat pemilik kendaraan tidak ragu untuk menjajal kemampuan kendaraan pribadi mereka untuk bepergian ke luar kota bersama keluarga mereka.

"Tentunya mendukung pengembangan infrastruktur yang positif. Pengguna mobil akan menikmati kenyamanan, kedinamisan, dan performa kendaraan saat bepergian jarak jauh," katanya.

Jongkie mengatakan, tidak hanya kendaraan komersial menikmati akses jalan tol di luar kota untuk pengiriman barang. Pemilik kendaraan pribadi juga menikmati fleksibilitas, waktu dan efisiensi biaya saat mengemudi di luar kota.

"Jika Anda menggunakan jalan normal, berapa kali Anda menginjak rem dan berapa biayanya untuk bensin? Coba hitung. Tol itu memang mahal, tapi kendaraan komersial dan penumpang sama-sama menikmatinya," katanya.