Jakarta –

Untuk mengurangi polusi dan ketergantungan impor, pemerintah mendorong penggunaan kendaraan listrik. Lalu apa yang akan terjadi pada program konversi bahan bakar minyak (BBM) menjadi bahan bakar gas (BBG) setelah program kendaraan listrik muncul?

Profesor Teknik Universitas Indonesia (UI) Profesor Iwa Garniwa Mulyana mempertanyakan apakah nasib mobil listrik akan sama dengan program konversi BBM ke BBG.

"Apakah wacana mobil listrik hari ini akan sama dengan mobil berbahan bakar gas (BBG), karena pada tahun 2000-an ada keinginan untuk sebuah mobil CNG untuk muncul tetapi sampai sekarang belum ada perkembangan wacana yang signifikan, "katanya di saluran YouTube Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dalam webinar berjudul" Mobil Listrik: Harapan atau Ilusi? ", Rabu (17/6/2020).

Memang, untuk penggunaan BBG saat ini sebagian besar menargetkan sektor transportasi, seperti TransJakarta, Bajaj, dan taksi konvensional.

"Tapi itu masih ruang lingkup angkutan umum, itu belum meluas ke kendaraan pribadi yang biasa digunakan oleh masyarakat," kata Iwa.

Iwa menjelaskan bahwa program konversi BBM ke BBG dapat terus berlanjut meskipun pemerintah telah memulai program kendaraan listrik. Karena, cakupan wilayah Indonesia yang luas, masih ada banyak pekerjaan rumah untuk mempercepat kendaraan listrik seperti infrastruktur, harga kendaraan listrik yang terjangkau, hingga kesiapan masyarakat.

"Kami adalah negara kepulauan dan tentu saja penggunaan BBM, BBG, atau kendaraan listrik dapat digunakan secara sektoral."

Iwa menyebutkan pengembangan mobil listrik adalah sesuatu yang harus dihadapi karena tren dunia memang menuju ke sana. Namun Indonesia memiliki potensi energi ramah lingkungan yang belum dimanfaatkan secara optimal.

"Kita tidak boleh berpikir bahwa dari Sabang ke Merauke, demi keadilan, semuanya harus sama (menggunakan teknologi kendaraan-Red), saya pikir ini adalah pekerjaan rumah kami untuk melakukan pengelompokan, melakukan apa yang benar, memetakan atau memetakan yang seharusnya telah memasuki kendaraan listrik, mana yang masih BBM, mana yang masih BBG, atau campuran semua, "jelas Iwa.

Yang tidak kalah penting adalah konsistensi semua pemangku kepentingan untuk mencapai target bauran energi yang telah menjadi komitmen bersama.

"Ini (kendaraan listrik) adalah kenyataan yang harus dihadapi dan dijawab dengan langkah-langkah cerdas," pungkas Iwa.

Lihat videonya "Polisi Nasional Menampilkan Desain Pelat Nomor Mobil Listrik"
[Gambas:Video 20detik]
(riar / lth)