Jakarta – Wacana tentang pengendara sepeda motor mungkin menyeberang di jalur khusus seperti Suramadu dan Tol Bali mencuat lagi setelah Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menyampaikannya di Pesta Bikers Rakyat, Senayan akhir pekan lalu.

Memang, jika mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2009 Pasal 1a dinyatakan jika jalan tol dapat dilengkapi dengan jalur khusus untuk kendaraan bermotor roda dua. Dengan catatan, jalur harus secara fisik dipisahkan dari jalur kendaraan roda empat atau lebih.

Sejalan dengan ini, beberapa orang yang terbiasa menggunakan sepeda motor berharap bahwa jalur sepeda motor dan mobil dipisahkan.

"Misalkan (jalan tol) diperbolehkan untuk kendaraan bermotor setuju selama tingkat keamanan dipertahankan, misalnya marka jalan, maka sepeda motor dibiarkan dan tidak benar dan kanan, sehingga ada pemisah antara mobil dan sepeda motor , "kata Pegawai Swasta di Jakarta Selatan.

Hal lain dengan Hilman, lelaki asal Citayam, Depok ini, mengaku agak keberatan jika sepeda motor memasuki jalan tol, tetapi jika jalur sepeda motor dibuat khusus dan tidak bercampur dengan mobil, akan berbeda.

"Sepertinya tidak apa-apa, hanya mobil, karena di jalan normal sudah macet, kami, sebagai pengguna sepeda motor, sudah dirancang, jalan tol khusus jalan bebas hambatan, jadi cukup banyak mobil, saya tidak setuju bahwa sepeda motor memasuki jalan tol, tetapi jika saya diberikan rute khusus, saya setuju, "kata Hilman yang tinggal di Citayam, Depok.

Sejalan dengan Hilman, Yogi ingin memiliki pembatas jalan antara mobil dan sepeda motor yang ia contohkan di jalur Transjakarta.

"Setuju untuk setuju, kawan, misalnya, pada suatu saat dalam situasi darurat kita memasuki jalan tol, agar jalur sepeda motor memisahkan diri seperti di jalur busway, jadi ada batasan.

"Menyetujui lebih teknis, jika sama dengan sepeda motor tol dan mobil berbahaya, mungkin jika saya berspesialisasi dalam sepeda motor, saya setuju, misalnya di Suramadu dan Bali," kata M. Nur. (riar / lth)