Saat baterai habis, pengguna bisa menukarnya dengan baterai yang sudah penuh.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK – Perkembangan mobil listrik masih mencari bentuk paling tepat. Salah satu perkembangan yang paling vital adalah pada aspek pengisian daya baterai.

Dilansir dari Car and Driver, Rabu (26/8), pengembangan dilakukan oleh pabrikan kendaraan listrik (EV) asal China bernama Nio. Guna menghadirkan EV yang praktis, Nio juga mengembangkan EV yang dilengkapi fitur battery swap.

Melalui fitur ini, ketika kapasitas baterai mulai menipis, pengemudi dapat dengan mudah menukar baterai yang telah terisi penuh. Artinya, pengendara tidak perlu lagi khawatir dengan stasiun pengisian ulang yang biasanya membutuhkan waktu pengisian yang relatif lama.

Fitur ini dikembangkan melalui sistem langganan yang disebut Battery as a Service (BaaS). Skema ini sendiri perlu didukung oleh infrastruktur canggih yang disebut stasiun Power Swap.

Melalui stasiun Power Swap, pengemudi dapat mengganti baterai secara otomatis. Prosesnya hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit. Tentu ini jauh lebih cepat daripada teknologi pengisian cepat dari pabrikan mana pun saat ini.

Dengan sistem langganan, artinya pengemudi tidak diharuskan memiliki baterai pribadi. Jadi, pengemudi bisa membeli EV tanpa baterai. Ini juga otomatis mampu menurunkan harga EV menjadi sekitar 10 ribu dolar AS.

Saat berlangganan, pengemudi bisa memilih paket kapasitas baterai sesuai kebutuhannya. Biaya berlangganan ditetapkan sekitar US $ 140 untuk enam penggantian baterai per bulan.

Tapi, saat ini sepertinya setiap negara dan produsen masih mempertimbangkan cara paling efektif untuk mengisi daya baterai. Apalagi sistem di Power Swap station yang bekerja secara otomatis juga membutuhkan investasi yang tidak sedikit.

Padahal skema ini terbukti cukup efektif di China dan beroperasi sejak 2014. Padahal, saat ini sudah ada 500 ribu PLTU yang beroperasi di China.

sumber: antara