Penjualan kendaraan bermotor akan meningkat jika pertumbuhan ekonomi 5,7 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Perindustrian mengusulkan pelonggaran pajak atas pembelian mobil baru sebesar nol persen atau pemotongan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Proposal ini menimbulkan pertanyaan apakah rencana tersebut dapat menggerus pasar mobil bekas.

Menurut pengamat otomotif dan akademisi Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, jika pajak mobil baru bisa mencapai nol persen pada akhir tahun 2020, maka secara hipotesis harga akan dipotong sekitar 10-25 persen. Itu tergantung apakah PPN dihapus atau bahkan PPnBM.

Namun, jika hanya turun 10 persen, menurut Yannes tidak akan mengganggu harga mobil bekas yang kini harganya lebih rendah dibandingkan harga di bulan yang sama tahun 2019.

“Jika harga mobil baru bisa dipotong sekitar 10-25 persen, maka akan menggerus pasar mobil bekas. Alhasil, agar bisa bertahan, harga jual mobil bekas akan semakin turun,” ujarnya.

Jika ini terjadi, masyarakat akan semakin yakin bahwa kendaraan bermotor bukan lagi barang investasi yang layak, tetapi benar-benar merupakan barang konsumsi dengan tingkat depresiasi harga yang lebih besar.

Namun, Yannes tidak memungkiri bahwa di tengah ketidakpastian pandemi COVID-19, masih ada masyarakat yang mungkin ingin berganti kendaraan pribadi dengan harga murah. Pada akhirnya hal ini akan mengarah pada mobil bekas.

“Jika masih sedikit yang berpikir untuk beralih ke kendaraan pribadi ketimbang angkutan umum, tentunya yang memiliki keuangan lebih terbatas akan lebih memilih membeli kendaraan bekas,” ujarnya.

Di sisi lain, ketika ditanya tentang peningkatan daya beli masyarakat terhadap mobil baru yang akan segera terwujud dari inisiatif PKB 0 persen ini, Yannes mengatakan, hal tersebut masih sulit diprediksi. Namun, hal itu bisa menjadi harapan baru bagi industri otomotif.

“Upaya meningkatkan minat dan daya beli masyarakat dalam waktu singkat ini sangat sulit diprediksi, mengingat pemberlakuan kembali PSBB pada awal September terbukti langsung menekan perekonomian masyarakat, "kata Yannes.

"Apalagi, Bank Indonesia sudah mematok perkiraan inflasi 3,02 persen. Sebagai catatan, penjualan kendaraan bermotor hanya bisa meningkat jika pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,7 persen," pungkasnya.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian Indonesia mengusulkan pelonggaran pajak atas pembelian mobil baru sebesar nol persen atau pemotongan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), yang diharapkan dapat menggairahkan pasar dan sekaligus mendorong pertumbuhan sektor otomotif di tengah COVID- 19 pandemi.

sumber: antara