Jakarta – Wuling saat ini memiliki beberapa model andalan untuk masuk ke pasar otomotif Indonesia, yang didominasi oleh pabrikan Jepang. Sebagai permulaan, model Confero S dan Cortez datang pertama, diikuti oleh Formo, dan akhirnya memperkenalkan Almaz SUV.

Didukung oleh PT. SGMW (Saic General Motor Wuling) secara resmi pabrikan Cina juga memiliki wadah resmi untuk penggunanya. Wuling Club Indonesia (WLCI) yang dideklarasikan pada 28 Oktober 2017, di Paviliun Cina, Taman Miniatur Indah, Jakarta Timur.

Untuk diketahui, WLCI diprakarsai oleh Hendra Susanto, seorang lulusan teknik mesin pria yang telah melintasi dunia otomotif, mengungkapkan alasan untuk memilih Wuling Confero S L Plus sebagai kendaraannya.

Kebetulan detikOto berkesempatan berbincang dengannya yang berada di sekretariat WLCI, Jl. WR. Supratman No. 3 Kp. Utan, Cempaka Putih, Ciputat, Tangerang.

"Di depan klub daripada di mobil, yah, Wuling yang luar biasa," Hendra membuka.

"Agar Wuling bisa masuk ke Indonesia, saya membuatnya terlebih dahulu di media sosial, Wuling Club Indonesia," kata Hendra.

Memang, dunia maya menjadi motor utama pembentukan WLCI, tetapi seiring berjalannya waktu dan kehadiran Confero S dan Cortez mereka akhirnya muncul ke permukaan.

"Sebagai organisasi induk atau klub mobil Wuling di Indonesia, kami menjembatani untuk terhubung dengan APTM, kurang lebih anggota WLCI sekarang hampir 1.000," kata Hendra.

"Jika dilihat oleh pengguna mobil Wuling, rata-rata adalah pembeli pertama (pembeli mobil pertama kali) sehingga mereka masih fokus pada klaim garansi, jadi semua yang dimodifikasi masih dipertimbangkan," kata Hendra.

Hendra mengatakan bahwa pengalamannya bekerja sebagai manajer purna jual di salah satu produsen otomotif China Geely adalah alasan untuk membangun komunitas. Salah satunya adalah bentuk kepedulian terhadap kualitas produk dan penjualan setelah produsen Cina.

"Dari pengalaman Geely sebagai manajer aftersales, Cina kurang dalam kualitas dan kepuasan pelanggan, dari mana saya membuat komunitas untuk mempertahankan keberadaannya," kata Hendra.

"Manfaat bergabung dengan WLCI dapat berupa undangan langsung dari APM, misalnya GIIAS bisa mendapatkan alokasi tiket untuk didistribusikan ke klub, selain itu juga bisa mendapatkan diskon layanan dan suku cadang sebesar 5 persen di semua dealer Indonesia," kata Hendra.

Dia sendiri sudah mencoba merek mobil lain. Nama besar Wuling di negara asalnya adalah mobil terlaris, tidak mungkin jika tidak mematahkan stigma. Hendra didorong untuk membeli Confero S L plus di Jakarta Fair pada tahun 2017.

"Saya pertama kali membeli mobil Wuling, karena selama ini saya biasanya mendapat hibah atau tidak ada warisan. Sebelumnya saya juga tahu dari 2015, Wuling akan masuk ke Indonesia," kata Hendra.

"Wuling, yang saya tahu sudah bekerja dengan General Motor, yang memproduksi mobil Chevrolet, jadi itu masalah mesin, jangan melihat merek Cina," kata Hendra.

Meskipun dia merasa puas dengan apa yang disampaikan oleh Wuling di negara itu. Namun, ia menyatakan kecemasan dengan peningkatan pembeli tetapi tidak disertai dengan layanan purna jual yang signifikan.

"Ini yang saya benar-benar bingung, tetapi saya hanya berpikir positif, mungkin sekarang mereka membangun, jika tidak, itu akan sama dengan pabrikan Cina sebelumnya," katanya.

Apalagi saat ini pengguna mobil Wuling semakin meningkat, hingga akhirnya WLCI hadir di berbagai daerah.

"Kami menganggap bab ini sebagai klub, jadi kami berharap mereka bisa mandiri, mengatur anggota dan budaya di anggota, dan tidak bergantung pada pusat," kata Hendra.

"Di masa depan kita akan menjadikannya sebagai daerah, sehingga nantinya akan ada Indonesia Barat, Indonesia Tengah, dan Indonesia Timur, seperti gubernur yang ditarik dari masing-masing klub," katanya. (riar / kering)