Jakarta –

Pemerintah diminta segera meningkatkan kualitas angkutan umum untuk menjaga mobilitas masyarakat agar dapat kembali mendukung perekonomian Indonesia. Tentunya pembenahan transportasi ini dengan mengedepankan Social Distancing, mengingat masa pandemi belum berakhir.

Seperti yang disampaikan Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno. Djoko mengatakan, peningkatan layanan angkutan umum dengan menjaga kesehatan akan mendukung pemulihan ekonomi.

“Caranya dengan menambah frekuensi dan kapasitas angkutan umum untuk mengurangi kepadatan penumpang. Operator angkutan umum diminta menggunakan sistem penghitungan penumpang, khususnya pada KA komuter dan pinggiran kota, untuk mengatur kapasitas,” tulis Djoko.

Sedangkan untuk perjalanan di luar jam sibuk, menurut Djoko, perlu didorong insentif. Seperti harga yang lebih murah untuk mendistribusikan kepadatan.

“Langkah pemberian insentif adalah mencari cara untuk mengatasi kerugian finansial akibat penurunan penumpang yang kemungkinan besar akan berlangsung beberapa tahun ke depan. Penerapan jam-jam tertentu yang mengalihkan permintaan dari masa puncak memiliki variasi dalam Jam masuknya, supaya jam sibuknya bisa dimuat. Dikurangi agaknya selain memungkinkan jarak fisik, tapi juga membuat angkutan umum lebih menyenangkan, ”imbuh Djoko.

Himbauan untuk memakai masker di angkutan umum didorong sejak diberlakukannya PSBB. Hingga saat ini penumpang KRL tertib dengan himbauan tersebut. Foto: Pradita Utama

Menurut Djoko, di era pandemi, integrasi secara umum terbagi menjadi tiga, yakni integrasi fisik, integrasi penjadwalan, dan integrasi pembayaran. Namun bagi Indonesia harus ditambah dengan integrasi pemikiran.

Masalahnya, gagasan pembangunan angkutan umum antara pusat dan daerah seringkali tidak konsisten. Daerah kerap meminta bantuan angkutan umum berupa fasilitas. Namun, ada masterplan perencanaan jaringan dan pengelolaan atau operasional angkutan umum. Rencana induk belum disiapkan, "kata Djoko.

Akibatnya, bantuan sarana transportasi berupa bus tidak dapat beroperasi secara maksimal di daerah. Bahkan ada beberapa daerah yang mengalami keterlambatan atau tidak mengoperasikan fasilitas bus yang dimintanya, tambah Djoko.

Selain itu, Djoko juga menilai pemerintah harus menambah jumlah jalur pengendara sepeda. Langkah ini perlu dilakukan karena sepeda merupakan sarana transportasi baru bagi masyarakat yang ingin beraktivitas.

“Jalan kaki dan bersepeda ke tempat kerja juga berkorelasi dengan penurunan risiko penyakit dan kematian remaja. Pembatasan transportasi saat pandemi bisa menjadi momentum untuk mulai menggunakan sepeda atau jalan kaki ke tempat kerja. Seperti yang dikatakan Elly Sinaga, Agustus 2020, penumpang yang suka naik sepeda tidak. Anda harus membawa sepeda, Anda hanya perlu menyewa sepeda di stasiun dan halte bus.Penyediaan tempat parkir sepeda di stasiun (sudah ada) dan di halte (park and ride) di pinggiran kota, "kata Djoko.

Tonton video "Stasiun Tanah Abang Beda, Bajaj dan Ojol Tidak Semrawut Lagi"
[Gambas:Video 20detik]
(lth / rgr)