Isuzu mencatat total penjualan pada Agustus 2020 sebanyak 364.034 unit ytd.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Industri otomotif terus berupaya bertahan di tengah pandemi. Pasalnya, Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) yang diterapkan di sejumlah daerah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 telah menurunkan volume penjualan kendaraan.

Kepala Divisi Pemasaran PT Isuzu Motor Indonesia Attias Asril menyatakan, volume penjualan mengalami penurunan. Perseroan mencatat total penjualan pada Agustus 2020 sebanyak 364.034 unit year to date (YTD). Pada periode yang sama tahun lalu ada 677.085 unit YTD.

Sedangkan penjualan retail pada Agustus 2020 sebesar 10.488 unit YTD. Jumlah ini menurun dari Agustus 2019 yang sebesar 13.108 YTD unit.

Attias mengatakan saat ini kebutuhan ambulans cukup besar. Isuzu bahkan harus memiliki stok tersedia atau ready stock.

“Di Isuzu hampir seluruh tenaga kami digunakan sebagai unit pelayanan kesehatan, mobil ELF bahkan juga Isuzu Mu-X. Ada dealer yang kami lakukan serah terima ambulans dari varian kendaraan baru kami, sehingga kontribusi pelayanan kesehatan cukup besar. untuk penjualan Isuzu secara keseluruhan, ”jelasnya dalam diskusi online yang digelar Astra, Kamis (1/10).

Soal usulan pajak kendaraan nol persen untuk kendaraan baru, yang diajukan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) ke Kementerian Keuangan (Kemenkeu), menurutnya berpotensi meningkatkan daya beli masyarakat terhadap kendaraan. . “Saat ini kurang lebih ada dampak di mana orang menunggu untuk melihat apakah ini akan berhasil atau tidak. Jadi itu membuat sedikit lebih terkendali,” ujarnya.

Ia menilai, jika kebijakan pajak nol persen diterapkan, daya beli masyarakat bisa meningkat. Karena harga mobil turun.

Namun kata Attias, hal berbeda mungkin saja terjadi pada kendaraan niaga. Pasalnya, pembelian kendaraan jenis ini akan sangat bergantung pada kebutuhan kegiatan usaha perusahaan.

Artinya, kebutuhan kendaraan akan langsung berhubungan dengan kegiatan usaha pelanggan Isuzu, sehingga apabila stimulus dari pemerintah mampu menggerakkan roda usaha maka akan berdampak langsung pada kendaraan niaga.

“Namun, jika diberikan insentif untuk harga kendaraan, sedangkan bisnis masih stagnan. Mungkin dampaknya tidak terlalu besar,” ujarnya.