Jakarta –

[Gambas:Video 20detik]

Renault Koleos otot

Renault

sekarang dipegang oleh Maxindo Nusantara Group. Di tangan Maxindo Nusantara Group, Renault optimis dapat kembali berjualan di Indonesia. Maxindo memiliki tugas berat untuk membawa Renault mengambil sebagian mobil Jepang yang telah mendominasi penjualan mobil di Indonesia.

Tapi mobil Jepang bukan satu-satunya lawan berat yang harus dihadapi oleh Renault. Pada 2017 mobil Cina meramaikan pasar otomotif di negara ini.

Meluncurkan produk yang mirip dengan mobil Jepang, merek China menawarkan harga yang lebih murah. Mobil-mobil Cina juga memiliki niat untuk mencapai ranah otomotif Indonesia. Tidak hanya berjualan di dealer, merek Cina membangun pabrik mereka di sini. Mobil Cina Wuling Cortez. Foto: Rengga Sancaya
Meskipun masih memiliki pandangan miring mengenai kualitas mobil, perlahan-lahan merek mobil Cina mulai menunjukkan peningkatan penjualan. Ditambah dengan berbagai varian model. Renault sepertinya harus memperhitungkan keberadaan mobil Cina.

Renault juga harus mewaspadai pabrikan Korea Selatan yang berencana membangun pabrik di Indonesia. Sebelumnya, merek mobil Korea Selatan hanya menjual mobil dan menyediakan layanan purna jual.

Foto Hyundai: Ruly Kurniawan
Ketika masih terlindung oleh Indomobil Group, Renault tidak terlalu bersinar. Terlibat di Indonesia sejak 2002, Renault tidak pernah menjual 1.000 unit mobil dalam setahun. Sementara mobil Jepang bisa menjual puluhan ribu unit setahun.

Meski begitu, Renault masih betah menawarkan mobilnya kepada masyarakat Indonesia. Renault tidak terburu-buru pergi seperti merek yang penjualannya menurun.

Otot Renault Kwid

[Gambas:Video 20detik]

(kering / ddn)