Jakarta – Sebagai tanda kesiapan untuk memasuki era kendaraan listrik, Mercedes-Benz Indonesia membawa mobil rendah emisi yang memiliki baterai elektrik paling sederhana, Mercedes-Benz C 350e. Meski sekilas mirip dengan C-class lainnya, ternyata sedan ini cukup istimewa.

Ketika Mercy mengadakan program test drive beberapa waktu lalu, ada berbagai unit Mercedes-Benz yang bisa dicoba oleh masyarakat umum. Di sana, pengunjung juga dapat melihat tiga unit Mercy terbaru, yaitu A-Class, CLS, dan V 260.

Dari sekian banyak unit yang disediakan untuk pengujian, hanya ada satu kendaraan yang memiliki motor listrik, C 350e. Penasaran, detikOto langsung mendaftar untuk bisa mengajaknya berjalan-jalan sedikit.

Mercedes-Benz C 350 e Foto: Ruly Kurniawan
Untuk desain keseluruhan, ada beberapa perbedaan pada mobil ini mulai dari headlamp dengan aksen biru di bagian tepi, rem biru, plug-in hibrida dengan latar belakang biru, dan slot tambahan di bagian belakang untuk mengisi daya listrik.

Aksen biru menunjukkan bahwa mobil bukanlah kendaraan biasa tetapi rendah emisi dan memiliki baterai listrik sebagai pembantu mengemudi.

Interior Mercy C 350 e Foto: Ruly Kurniawan

Sedangkan di interior, sama sekali tidak berbeda dari Kelas-C lainnya. Ruang kaki masih cukup sempit terutama di bagian penumpang belakang. Untuk penumpang di tengah juga kurang nyaman untuk ukuran dewasa karena ada pijakan pemisahan yang cukup tinggi.

Foto: Ruly Kurniawan

Hanya saja mode mengemudi pada C 350e tidak hanya memiliki Sport, Sport +, Eco, Comfort, dan Individual, tetapi ada mode Hybrid, E-mode, E-save, dan Charge.

Foto: Ruly Kurniawan

Keempat mode tersebut digunakan oleh pengendara untuk mengatur kinerja baterai listrik seperti pengisian baterai saat menjalankan (Charge), mengurangi pasokan baterai saat menjalankan (E-save), hingga benar-benar hanya menggunakan baterai listrik (Hybrid). Informasi mode kelistrikan ini ditampilkan pada layar MID dengan nama Energy Flow menu.

Ketika mobil pertama kali dihidupkan dengan memutar pegas kunci (belum menjadi mesin start stop), tidak ada suara dan getaran sama sekali. Instruktur yang mendampingi detikOto pada saat itu juga bingung apakah mobil itu menyala atau tidak. Karena, C 350e langsung masuk ke mode listrik yang sangat sepi dan tidak bergetar.

Cara mengetahui apakah mobil sedang on atau tidak adalah dengan menginjak gas pada posisi transmisi secara netral (N). Ketika speedometer bergerak, itu berarti mobil siap berjalan. Itulah yang dikatakan instruktur perjalanan.

Foto: Ruly Kurniawan

Memang, area yang disajikan sangat terbatas, yaitu satu putaran dari Senayan City ke Fairmount Hotel dan kembali lagi. Kondisi saat itu juga cukup ramai. Tapi apa yang bisa Anda katakan adalah bahwa mobil tersebut cukup nyaman untuk digunakan sehari-hari karena akselerasi yang responsif dan daya tinggi. Suspensi dibuat untuk menambah kenyamanan dengan suspensi udara tambahan.

Namun sayangnya, Mercedes-Benz Indonesia tidak akan memasarkan C 350e. Karena, tanpa insentif yang jelas untuk mobil listrik, kendaraan seperti ini sangat mahal. Sekarang, harga yang diperkirakan adalah Rp 1,6 miliar.

(ruk / ddn)