Jakarta – Anti-lock Braking System (ABS) adalah salah satu fitur yang berguna untuk meminimalkan risiko kecelakaan lalu lintas. Berdasarkan data dari Kepolisian Republik Indonesia, pada tahun 2017, kecelakaan kendaraan bermotor roda dua dan roda tiga di Indonesia menyumbang 72 persen dari total jumlah kecelakaan di Indonesia.

Kendaraan bermotor roda dua masih merupakan moda transportasi yang penting di Indonesia. Jumlah pengguna diperkirakan akan terus meningkat. Indikasinya terlihat dari data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) yang menyatakan bahwa penjualan sepeda motor di Indonesia selama Januari-Juni 2018 telah mencapai lebih dari 3 juta unit. Tidak mengherankan, sekaligus mengkhawatirkan, jika jumlah sepeda motor yang terlibat dalam kecelakaan di jalan raya relatif tinggi (tahun 2017 saja mencapai 134.174 unit).

Untuk penggunaan masif perlu ada regulasi seperti apa yang telah dilakukan di sejumlah negara. Misalnya kewajiban adanya perangkat keamanan seperti ABS untuk sepeda motor.

"Peraturan tidak bisa begitu saja dilakukan. Industri harus dipersiapkan terlebih dahulu dan 100 persen penggunaan secara keseluruhan harus bertahap," kata Kepala Laboratorium Transportasi, Teknik Sipil, Universitas Indonesia, Tri Tjahjono saat menghadiri diskusi dengan Bosch tentang implementasi ABS di Indonesia Motor Show (IMOS) 2018 akhir pekan lalu.

Tri menambahkan bahwa regulasi ABS pada kendaraan roda dua harus dimulai dengan industri terlebih dahulu. "Peraturan siap jika industri sudah siap. Setelah ekonomi skala kuat bersifat sukarela, jalan akan pergi.

"Di luar negeri, secara umum, penduduk secara alami meningkat. Ketika disediakan di sana, suku cadang baru bersirkulasi, ada pekerjaan sukarela. Bosch tidak bisa menyediakan ini jika hanya sukarela, skala ekonominya sangat rendah," Tri menyimpulkan. (rip / rgr)