Jakarta – Pengembangan mobil listrik di Indonesia harus didukung oleh fasilitas dan infrastruktur pendukung. Kerjasama dibutuhkan oleh banyak pihak untuk mendukung pengembangan mobil listrik di Indonesia, salah satunya adalah PLN.

"Di sini PLN sebagai produsen dan penyedia listrik terbesar, yang paling bertanggung jawab atas keberadaan kendaraan listrik (EV). Kami sudah mulai sejak 3-4 tahun yang lalu, kami sudah memiliki General Charge Charge Station (SPLU)," kata PT Manajer Pemasaran PLN Disjaya, Mayang di BRI Green Evironment KKB di Jakarta, Senin (15/4/2019).

Mayang mengakui bahwa persiapan untuk pengembangan mobil listrik telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, tetapi karena satu dan lain alasan, konsep atau spesifikasi SPLU baru dapat menyamai mobil listrik yang sekarang mulai beredar di masyarakat baru-baru ini.

"Sekarang kami terus mengembangkan teknologi sehingga dapat diterima untuk EV. Sudah sekitar 1.600 SPLU hanya untuk Jakarta," katanya.

Untuk mengetahui lokasi SPLU menurutnya metode itu cukup mudah. Pengguna mobil listrik hanya perlu mencari Google dengan kata kunci "kendaraan listrik" atau "SPLU". Dengan begitu akan ada beberapa pilihan SPLU terdekat dengan posisi saat mencari.

"Yang menarik sebenarnya karena stasiun pengisian tidak perlu mencari SPLU, karena setiap rumah adalah stasiun pengisian pribadi Anda sendiri," katanya.

Mulai tahun ini, menurutnya, PLN Jakarta bahkan sudah mulai bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengimplementasikan SPLU di tempat parkir mal dan gedung perkantoran. Jenisnya adalah pengisian cepat SPLU.

"Jika di rumah, gunakan pengisian daya 4-6 jam, jika di stasiun pengisian cepat hanya 2 jam. Nanti akan ada teknologi lain yang dikembangkan yang disebut stasiun pengisian super cepat, hanya 15 menit, cocok untuk area istirahat , "jelasnya.

Sementara itu, selain menyediakan titik pengisian atau SPLU, ekosistem kendaraan listrik juga dapat didukung oleh skema pembelian mobil listrik. Bank

BRI akhirnya menjadi bank pertama di Indonesia yang menyediakan KKB khusus untuk mobil listrik.

"Karena kualifikasi tambahan untuk memenuhi listrik ini, dukungan pendukung lain pasti diperlukan, yang juga menghasilkan harga yang lebih tinggi daripada kendaraan bermotor biasa," kata Direktur Konsumen Bank BRI Handayani.

Menurutnya, adanya skema pembelian dengan KKB ini akan membantu mensosialisasikan penggunaan mobil listrik. Alasannya, orang yang berminat memiliki tidak akan terbebani oleh harga mobil listrik yang lebih mahal, karena ada sistem kredit dari BRI. (ega / lth)