Jakarta –

Banyak orang, terutama warga Jakarta, enggan menggunakan transportasi umum karena moda transportasi ini tidak menawarkan kenyamanan dan keamanan, serta sering dianggap najis dan tidak sehat. Tapi sebenarnya siapa yang bertanggung jawab untuk mewujudkan angkutan umum yang nyaman, aman dan sehat?

Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Polana B Pramesti, pada Webinar & # 39; Transportasi Bijak di Era Pandemi COVID-19 & # 39; menjelaskan, BPTJ selalu menyiapkan instrumen terbaik agar masyarakat bisa memilih menggunakan transportasi massal. Namun, untuk mewujudkan angkutan umum terbaik, BPTJ membutuhkan bantuan semua pihak.

“Kita di bawah Kementerian Perhubungan dan kita koordinasikan semuanya, kita koordinasikan dan komunikasikan semuanya. Kalau rencana BPTJ berjalan dengan baik itu akan sangat bagus, kota kita bisa seperti di Tokyo dan kota-kota lain,” kata Polana.

“Tapi dalam kebutuhan pembangunan (angkutan massal atau angkutan umum yang baik) itu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat tetapi juga pemerintah daerah. Kita BPTJ menyiapkan instrumennya dan mengupayakan semuanya. Tapi ini juga melibatkan tidak hanya pemerintah. pemerintah tetapi juga swasta dan masyarakat., ”tambah Polana.

Polana menjelaskan, jika ingin membuat kendaraan yang ramah kepada semua, masyarakat juga harus disiplin.

“Cita-cita ini tidak bisa dijalankan oleh unsur pemerintah apalagi jika masyarakatnya tidak disiplin. Tapi alhamdulillah saat ini angkot Jabodetabek sudah bagus dan ini bukan hanya kita yang menjaganya tapi masyarakat juga. Kita berharap begitu yang terpusat. dan pemerintah daerah sudah membangun. Masyarakat juga harus melindunginya, ”kata Polana.

PT Transjakarta menambah 155 armada. Keputusan ini untuk mendukung kebijakan pemulihan sistem ganjil genap di beberapa ruas jalan di Ibu Kota. Foto: Rengga Sancaya

Namun, mengingat situasi pandemi yang belum diketahui kapan akan berakhir, Polana berharap masyarakat bisa sedikit menahan diri untuk melakukan banyak kegiatan.

“Angkutan umum masih terbatas, jadi sebaiknya masyarakat melakukan perjalanan hanya jika diperlukan, dan sesuai dengan ketentuan di daerah masing-masing. Selanjutnya masyarakat yang harus keluar rumah pastikan dalam keadaan sehat, harus istirahat dan istirahat yang cukup. tingkah laku saat diluar rumah harus dijaga., agar tidak menjadi potensi penularan bagi orang lain untuk menggunakan masker dan menjaga jarak hanya itu yang diperbaiki.Jika harus melakukan aktivitas cobalah jalan kaki atau bersepeda gitu sehingga potensi penularannya lebih kecil, "kata Polana.

Tonton Video "Keluhan Sopir Bus tentang Kenaikan Tarif Tol"
[Gambas:Video 20detik]
(lth / din)