Jakarta –

Banyak masyarakat di kota-kota besar di Indonesia mengeluhkan masalah kemacetan. Akumulasi kendaraan bermotor di jalan raya yang menghambat waktu tempuh menjadi pemandangan sehari-hari di kota-kota besar.

Untuk mengatasi kemacetan, menurut Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Harya S. Dillon, yang dibutuhkan adalah transportasi perkotaan yang terintegrasi dan berorientasi pada konsumen. Menurutnya, pemerintah harus turun tangan untuk menyediakan sistem yang tidak bergantung pada kendaraan pribadi.

“Kalau sekarang kita bilang macet, mungkin karena selama ini sistem yang kita bangun masih berpihak pada pemilik kendaraan bermotor. Jadi yang merasa dikucilkan karena tidak punya kendaraan bermotor dipicu beli kendaraan bermotor yaitu kendaraan roda dua yang kebetulan harganya murah, "kata Harya dalam webinar bertajuk" Transportasi Menuju Keragaman Rajutan "yang disiarkan langsung di kanal YouTube Kementerian Perhubungan, Rabu (19/8). / 2020).

Harya melanjutkan, keluhan kemacetan dengan kepemilikan kendaraan bermotor yang terlalu tinggi di kota-kota besar muncul karena selama ini belum cukup berhasil menyediakan transportasi terintegrasi dari asal ke tujuan. Padahal, belakangan ini pemerintah tengah menggalakkan program transportasi untuk mengatasi kemacetan.

“Dalam lima tahun terakhir ini banyak perubahan, kemajuan luar biasa. Sekarang kalau kita lihat misalnya TransJakarta terus berkembang, dan juga mulai tahun 2019 lalu, MRT menurut saya prestasi yang luar biasa,” ujarnya. kata.

Transportasi massal memang mengalami peningkatan. Namun, menurut Harya, masalah selanjutnya adalah jarak tempuh pertama atau perjalanan dari rumah ke stasiun / halte bus dan jarak terakhir atau dari stasiun / halte ke tujuan seperti kantor.

“Itu yang menurut saya perlu dibenahi yaitu mengutamakan transportasi tidak bermotor. Fasilitas pejalan kaki, fasilitas bersepeda paling penting seperti start dan ending kilometer, karena tidak semua kita punya rumah langsung di atas stasiun atau kerja langsung di atas stasiun, untuk menuju stasiun kita. Butuh panduan moda. Dan yang paling lestari, paling ramah lingkungan, dan paling adil adalah mengutamakan fasilitas pejalan kaki dan pengendara sepeda, "kata Harya.

Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi mengatakan, pihaknya juga sedang menyiapkan peraturan menteri terkait penggunaan moda transportasi ramah lingkungan seperti sepeda atau skuter listrik.

“Di sini moda transportasi darat memang berkembang. Kita sedang mengembangkan regulasi dan juga menyangkut masalah infrastruktur. Semua kepentingan ada di sana. Orang yang mau naik angkutan umum dari rumah bisa pakai, katakanlah skuter listrik, kemudian nanti naik angkutan umum kemudian masuk. , lalu berangkat ke kantor pakai skuter listrik, ”kata Budi.

Tonton Video "Kemacetan Jalan Tol Halim Sepanjang 1 KM Pagi Ini"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr / din)