Produsen disarankan untuk meningkatkan daya jelajah saat menggunakan baterai.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Sambil menunggu kesiapan mobil listrik secara keseluruhan, sejumlah produsen dan negara tengah menyiasati sejumlah produk plug in hybrid electric vehicle (PHEV). Dengan adanya kendaraan ini diharapkan masyarakat dapat menggunakan energi listrik dan mesin konvensional sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Namun berbagai faktor membuktikan bahwa saat ini penggunaan PHEV dinilai belum optimal dalam menurunkan konsumsi bahan bakar dan menurunkan emisi. Temuan tersebut terungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh Fraunhofer Institute for Systems and Innovation Research (ISI) dan International Council on Clean Transportation (ICCT).

Dilansir dari Electrive, penelitian tersebut dilakukan terhadap sekitar 100 ribu unit mobil PHEV yang telah beredar di pasaran. Data juga diperoleh dari sejumlah perusahaan pengguna kendaraan PHEV dan pengguna PHEV di sejumlah negara.

Dari penelitian ini diketahui bahwa kendaraan PHEV masih banyak mengkonsumsi bahan bakar fosil untuk mendukung performa mesin konvensionalnya. Secara otomatis, hal ini turut menyumbang emisi gas buang dari ventilasi buang.

Untuk mempermudah dalam mendeskripsikan, penelitian ini juga menggunakan indikator utility factor (UF). Melalui indikator ini, Anda bisa melihat seberapa sering pengguna PHEV menggunakan mode mengemudi tanpa emisi.

Berdasarkan New European Driving Cycle, penggunaan PHEV diharapkan mencapai sekitar 69 persen UF untuk kendaraan pribadi dan 63 persen untuk kendaraan operasional perusahaan. Namun, penelitian mengungkapkan bahwa rata-rata UF yang dicapai hanya berkisar 20 hingga 37 persen.

Hasilnya kemudian dianalisis. Ternyata salah satu penyebab kurang tercapainya UF adalah karena kondisi budaya dan infrastruktur pengisian ulang aki, baik fasilitas umum maupun swasta. Mengingat, kendaraan PHEV merupakan kendaraan yang sangat mengandalkan busi untuk mengisi ulang baterainya.

Budaya masyarakat di sejumlah negara dan minimnya fasilitas pengisian baterai juga membuat motor listrik semakin jarang digunakan. Apalagi, saat ini daya jelajah baterai rata-rata di PHEV hanya berkisar 30 hingga 60 kilometer.

Otomatis, kombinasi ini juga membuat UF kurang dari 50 persen, terutama di beberapa negara yang rata-rata daya perjalanan hariannya cukup tinggi. Oleh karena itu, penelitian yang dilakukan di sejumlah negara seperti Amerika, China, Jerman, Norwegia, dan Belanda telah menyimpulkan sejumlah rekomendasi untuk pengembangan PHEV.

Selain merekomendasikan insentif dan infrastruktur kepada pemerintah di sejumlah negara, rekomendasi tersebut juga ditujukan kepada produsen mobil. Riset menunjukkan bahwa produsen dapat meningkatkan jarak atau kapasitas baterai sehingga orang dapat lebih sering menggunakan mode mengemudi tanpa emisi.

Tak hanya itu, riset juga menunjukkan bahwa pabrikan lebih mengutamakan motor listrik ketimbang mesin konvensional di PHEV. Artinya, mesin konvensional pada PHEV perlu diposisikan sebagai mesin cadangan saja.