Jakarta – Suzuki berencana menarik 2 juta unit mobil di pasar otomotif Jepang, pabrikan otomotif terbesar ketiga di Jepang ini akan menarik kembali kendaraan domestik yang terjual sejak April 2016, guna dilakukan pemeriksaan yang diamanatkan pemerintah Jepang.

Pekan lalu, Suzuki mengakui bahwa tinjauan internal telah menemukan sejumlah masalah di pabrik-pabriknya, termasuk pemeriksaan rem yang salah, data efisiensi bahan bakar yang dipalsukan, dan staf tidak bersertifikat yang melakukan inspeksi akhir.

Penarikan itu diperkirakan akan menelan biaya perusahaan sekitar 80 miliar yen ($ 715 juta) dan juga mempengaruhi suku cadang yang dibuat oleh Suzuki untuk kendaraan yang diproduksi untuk Nissan, Mazda dan Mitsubishi.

Menteri Transportasi Jepang, Keiichi Ishii mengatakan perusahaan harus serius atas skandal itu. “Menimbulkan keraguan tentang salam perusahaan untuk kepatuhan dan itu sangat disesalkan,” kata Ishii kepada wartawan, seperti dikutip AFP, Jumat (19/04/2019).

Lebih lanjut, melansir dari keterangan resmi Suzuki yang dikabarkan Businessinsider, Presiden Toshihiro Suzuki mengatakan kemungkinan ada konfirmasi ketidaksesuaian dengan standar keselamatan Jepang. Dalam hal ini, dengan kata lain, inspektur memalsukan hasil tes. Dia berjanji eksekutif akan menerima pemotongan gaji sebagai hukuman, menurut laporan Nikkei.

Penarikan secara besar-besaran pabrikan Jepang terkait keselamatan bukan sesuatu yang mengejutkan. Penarikan Suzuki tidak akan mengejutkan pengikut industri motor Jepang. Nissan menarik 1,2 Juta mobil pada Oktober tahun lalu, setelah menemukan teknisi yang tidak bersertifikat sedang melakukan inspeksi kendaraan akhir.

Demikian pula, Subaru sebanyak 2,3 juta kendaraan dari seluruh dunia ditarik, termasuk 300.000 di Jepang pada bulan Februari, perihal masalah dengan lampu rem. (riar/lth)