Deepfake dapat menghitung keakuratan sistem keamanan mobil otonom.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Dalam kendaraan otonom, kamera adalah salah satu instrumen utama. Oleh karena itu, akurasi interpretasi data visual adalah salah satu hal yang menentukan tindakan sistem dalam kendaraan otonom (AV).

Dilansir dari Autocar, Minggu (28/6), sebuah perusahaan perangkat lunak dari Inggris saat ini sedang mengembangkan teknologi AV yang menerapkan teknologi deepfake. Dengan teknologi ini, sebuah perusahaan bernama Oxbotica dapat lebih mudah menguji keakuratan sistem AV.

Deepfake adalah teknologi manipulasi visual yang juga sering digunakan dalam pembuatan film. Oxbotica menerapkan teknologi ini untuk memanipulasi data visual untuk menguji keakuratan sistem AV di setiap kondisi.

Tes ini dilengkapi dengan visual utama yang menggambarkan kondisi lalu lintas yang dilewati oleh AV. Kemudian, data visual utama dimanipulasi menggunakan teknologi deepfake untuk memastikan bahwa sistem AV dapat membacanya secara akurat dan menanggapinya dengan tindakan yang benar.

Manipulasi visual termasuk mengubah tanda, mengganti lampu lalu lintas dan rambu lalu lintas dan menambahkan objek dalam bentuk pengguna jalan lainnya. Selain itu, Oxbotica juga memanipulasi data utama menjadi data visual ketika kondisi jalan gelap dan kondisi saat hujan sangat deras.

Co-Founder Oxbotica, Paul Newman mengatakan, tes ini adalah tes yang mampu menyelesaikan tahapan uji lapangan. "Teknologi Deepfake memungkinkan kita untuk melakukan pengujian dengan skenario yang sangat beragam. Metode ini juga tentunya lebih aman dan efisien. Namun, uji lapangan tetap harus dilakukan," kata Paul Newman.

Artinya, penerapan teknologi deepfake dapat membuat pengujian AV jauh lebih mudah, lebih aman, akurat dan efisien. Namun, untuk beberapa kondisi penting, uji lapangan tentu masih perlu dilakukan untuk memastikan bahwa sistem AV dapat berjalan optimal di setiap kondisi mengingat teknologi ini terkait erat dengan keselamatan jalan.

Teknologi AV sendiri juga telah memicu Lembaga Asuransi untuk Keselamatan Jalan Raya (IIHS) untuk melakukan studi tentang efektivitas AV dalam menekan kecelakaan. Sebagai basis data, IIHS menyebutkan bahwa 94 persen kecelakaan di Amerika Serikat (AS) disebabkan oleh kelalaian manusia.

Kemudian, IIHS juga mencoba menghitung seberapa besar peran teknologi AV dalam mencegah penelantaran manusia. Studi itu juga mengatakan, teknologi AV memiliki peran untuk mengurangi sekitar 30 persen kecelakaan yang disebabkan oleh kelalaian manusia.

Wakil Presiden IIHS, Jessica Cicchino mengatakan, robocars memang dapat menekan kecelakaan yang disebabkan oleh kelalaian manusia karena mereka dapat bereaksi lebih cepat dan tidak terpengaruh oleh pengemudi yang mengantuk, mabuk atau kelelahan.

"Tapi, AV hanya bisa menekan sekitar 30 persen karena AV tidak selalu memberikan respons instan. Selain itu, sensor dalam AV juga tidak selalu akurat dalam membaca kondisi aktual yang ada," kata Jessica Cicchino.