Jakarta – Kontroversi rencana Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) tidak terlepas dari limbah radioaktif yang dihasilkan. Peneliti Senior di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan limbah nuklir sangat berbahaya jika tidak dikelola dengan baik.

Sebagai perspektif, limbah dari ponsel akan berbahaya selamanya. Bukan hanya masalah ribuan tahun.

"Sebenarnya nuklir itu sederhana, misalnya jika Anda memiliki ponsel Anda yang dipegang setiap hari, apakah ia tahu itu beracun dan di mana ia menjalankan (limbah)? Dan bagaimana kabarnya?" Djarot memberi tahu detikOto saat berbicara di kantor BATAN di Tangerang, Banten.

"Limbah radioaktif berbeda. Dia sudah berumur, kebetulan kita di Serpong mengelola limbah radioaktif dari berbagai daerah, mulai dari lima tahun, 30 tahun, hingga ratusan tahun, setelah itu habis," kata Djarot.

"Jika tidak dikelola, tentu berbahaya," katanya. Lelaki yang telah lama meneliti pengolahan limbah radioaktif.

Setelah melalui proses pengolahan, limbah radioaktif disimpan di tempat yang aman dengan pelindung yang terbuat dari beton. Masalahnya tidak bisa dihancurkan tetapi zat radioaktif bisa menghilang seiring bertambahnya usia.

"Zat radioaktif adalah zat yang tidak dapat dihancurkan. Dia akan membusuk sendiri, jika mengandung 60 kobalt," kata Djarot.

"Usia akan membusuk atau menjadi setengah dari posisi awal 5 tahun. Jika sekarang memancarkan 100 radiasi, lima tahun ke depan akan menjadi 50, dan seterusnya, itu akan hilang untuk waktu yang lama," tambah mantan Kepala BATAN.

"Dia tidak dimusnahkan tetapi disimpan dalam penyimpanan besar. Di Serpong, kami menggunakan pelindung tebal yang terbuat dari beton. Kami meninggalkannya dan menyimpannya di sana selama bertahun-tahun sampai dikatakan aman," pungkasnya.

[Gambas:Video 20detik]

(riar / lth)